Kapten Muhamed Buljubasic Jelaskan Alasan Penolakan Salaman Bosnia U-21 dengan Tim Israel

Kapten Tim Nasional Bosnia U-21, Muhamed Buljubasic, menjadi sorotan setelah menolak bersalaman dengan para pemain Israel U-21. Insiden ini terjadi dalam laga lanjutan Kualifikasi Piala Eropa U-21 yang digelar di Hungaria pada Selasa, 31 Maret.

Aksi Buljubasic yang viral di media sosial tersebut dilakukan sebelum pertandingan dimulai, saat kedua tim berbaris untuk bersalaman. Dalam pertandingan yang berakhir imbang 0-0 itu, Bosnia U-21 kini menduduki peringkat kedua Grup G dengan tujuh poin, diikuti Israel U-21 dengan poin yang sama.

Buljubasic hanya menyalami wasit, kemudian berjalan melewati barisan pemain Israel tanpa menyalami mereka. Tindakan ini kemudian diikuti oleh rekan-rekan setimnya, menandakan sebuah pernyataan kolektif dari tim Bosnia U-21.

Alasan di Balik Penolakan Salaman

Melalui akun media sosial pribadinya, Muhamed Buljubasic menjelaskan motivasinya di balik penolakan salaman tersebut. Pemain berusia 21 tahun itu menyampaikan pesan tegas mengenai aksinya.

“Sebagai kapten tim, sebelum pertandingan kemarin, saya dengan jelas menyatakan bahwa tanah air dan keluarga saya tidak pernah mendorong saya untuk tunduk kepada mereka yang mendorong dunia ini ke dalam kehinaan dan kekerasan,” tulis Muhamed Buljubasic, dikutip dari akun media sosial pribadinya.

Ia menambahkan bahwa tujuannya adalah untuk merefleksikan pemikiran seluruh negaranya dan perasaan setiap orang yang waras mengenai situasi dunia saat ini.

Dampak Konflik Global pada Sepak Bola

Konteks di balik aksi Buljubasic ini berkaitan dengan konflik yang sedang berlangsung. Israel saat ini masih terlibat perang dengan Iran, dan telah bertahun-tahun melakukan tindakan terhadap Palestina yang oleh PBB dinilai sebagai aksi genosida.

Aksi penolakan bersalaman seperti yang dilakukan Muhamed Buljubasic bukanlah yang pertama kali terjadi di dunia sepak bola. Beberapa pemain Israel sebelumnya juga dilaporkan kehilangan kehormatan dan harga dirinya di lapangan hijau, seperti Manor Solomon yang pernah dicemooh oleh suporter klubnya sendiri, Villarreal.

Peristiwa ini menyoroti bagaimana isu-isu geopolitik dan kemanusiaan dapat meresap ke dalam arena olahraga, menjadi platform bagi para atlet untuk menyampaikan pernyataan dan menyuarakan pandangan mereka terhadap situasi global.