Jangan Senang Dulu! Meski Menang Lawan Persipal, Ini PR Besar yang Masih Menghantui PSIS
PSIS Semarang berhasil meraih kemenangan penting 2-0 atas Persipal Palu dalam lanjutan Pegadaian Championship 2025/2026 yang berlangsung di Stadion Jatidiri, Semarang, pada Sabtu (3/1/2026). Gol kemenangan Laskar Mahesa Jenar dicetak pada menit ke-29 melalui Sulistia K yang memanfaatkan asis dari Akbar H.
Namun, euforia kemenangan ini tak lantas meredakan bayang-bayang krisis yang masih menghantui tim kebanggaan Kota Semarang. Tiga poin yang didapat dari laga pekan ke-14 ini belum cukup mengangkat PSIS dari dasar klasemen Grup B, sehingga pekerjaan rumah besar menanti manajemen dan tim pelatih untuk menyelamatkan klub dari ancaman degradasi ke Liga 3.
Performa Inkonsisten dan Ancaman Degradasi
Hingga pekan ke-14 Pegadaian Championship 2025/2026, PSIS Semarang masih terpuruk di posisi juru kunci Grup B dengan hanya mengumpulkan 5 poin dari 13 pertandingan. Catatan ini terdiri dari satu kemenangan, dua hasil imbang, dan sepuluh kekalahan, menempatkan mereka di bawah Persipal yang mengoleksi 6 poin. Situasi ini sangat mengkhawatirkan dan memicu kekhawatiran serius akan potensi degradasi ke kasta ketiga sepak bola Indonesia.
Pada putaran pertama kompetisi, PSIS Semarang mencatatkan rekor negatif sebagai tim yang paling tumpul di lini serang dan paling rapuh di lini pertahanan. Mereka hanya mampu mencetak 4 gol, sementara gawang mereka telah kebobolan 22 kali. Rasio gol yang timpang ini menjadi indikasi jelas masalah fundamental dalam keseimbangan tim.
Tantangan Lini Serang dan Pertahanan
Kelemahan di lini depan dan belakang telah menjadi sorotan utama sepanjang musim ini. Meskipun telah mendatangkan sejumlah pemain baru, produktivitas gol PSIS masih jauh dari harapan untuk tim yang berjuang keluar dari zona merah. Lini pertahanan yang mudah ditembus juga menjadi pekerjaan rumah besar bagi pelatih Jafri Sastra, yang dituntut menemukan formula terbaik untuk mengamankan gawang dari gempuran lawan.
Dalam beberapa pertandingan sebelumnya, PSIS seringkali menelan kekalahan dengan skor telak. Salah satunya adalah saat mereka dihajar PSS Sleman 0-5 pada pekan keenam, yang semakin memperburuk posisi mereka di dasar klasemen. Kondisi ini memerlukan perbaikan sistematis, tidak hanya dari segi individu pemain, tetapi juga koordinasi tim secara keseluruhan.
Perombakan Skuad dan Harapan Baru
Menyikapi situasi genting ini, manajemen PSIS Semarang di bawah kepemimpinan pemilik baru, Datu Nova Fatmawati, telah melakukan perombakan besar-besaran. Sebanyak 11 amunisi baru telah didatangkan, termasuk nama-nama berpengalaman seperti Alberto Goncalves, Esteban Vizcarra, Otavio Dutra, serta legiun asing seperti Aldair Simanca asal Kolombia dan Rafinha dari Brasil. Perekrutan Rafinha dari PSIM Yogyakarta, misalnya, diharapkan dapat menambah daya gedor tim.
Datu Nova Fatmawati, yang merupakan istri dari mantan bos Persela Lamongan, Fariz Julinar Maurisal, menegaskan komitmennya untuk membenahi tim secara total. “Misi saya yang paling dekat adalah membenahi tim, dari pemain, pelatih sampai manajemen. Saya mencoba menyelamatkan PSIS agar kembali ke jalurnya,” ujarnya. Target realistis manajemen saat ini adalah bertahan di Liga 2 musim ini, dengan harapan membangun fondasi yang lebih kuat untuk musim depan.
Dinamika Manajemen dan Dukungan Suporter
Pergantian kepemilikan dan perombakan tim ini terjadi di tengah dinamika internal klub dan tuntutan dari suporter. Sebelumnya, suporter Panser Biru telah menyuarakan aspirasi untuk perombakan pemain dan jajaran kepelatihan yang dinilai gagal mengangkat performa tim. Bahkan, pada akhir tahun 2025, mantan CEO Yoyok Sukawi menyatakan bertanggung jawab atas keterpurukan tim dan telah menyerahkan pengelolaan kepada pemegang saham baru.
Di sisi positif, bulan Januari 2026 ini juga menjadi penanda berakhirnya boikot suporter yang telah berlangsung selama dua tahun. Kembalinya atmosfer sepak bola di Stadion Jatidiri dengan empat laga kandang yang dijadwalkan pada Januari ini diharapkan dapat memberikan motivasi tambahan bagi para pemain untuk berjuang lebih keras. Dukungan penuh dari suporter yang dikenal loyal ini krusial untuk membangkitkan semangat juang Laskar Mahesa Jenar dalam menghadapi sisa pertandingan krusial musim ini.