Di Balik Skor 6-2: Ada Momen Emosional yang Terlewatkan di Laga Malut United vs PSBS Biak
Malut United FC berhasil meraih kemenangan telak atas PSBS Biak dengan skor mencolok 6-2 dalam laga pekan ke-16 BRI Super League musim 2025/2026. Pertandingan yang digelar di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, Maluku Utara, pada Minggu (4/1/2026) sore WIB, menjadi panggung dominasi Laskar Kie Raha yang mengukuhkan posisi mereka di papan atas klasemen sementara liga domestik tertinggi Indonesia.
Hasil fantastis ini tidak hanya menambah tiga poin krusial bagi Malut United, tetapi juga mengirimkan pesan kuat tentang ambisi mereka di Super League. Di sisi lain, kekalahan telak ini menjadi pukulan berat bagi PSBS Biak, yang merupakan juara Liga 2 musim 2023/2024, memaksa mereka untuk melakukan evaluasi mendalam di tengah persaingan ketat musim ini.
Dominasi Sejak Menit Awal
Sejak peluit awal dibunyikan, Malut United langsung tancap gas dan mengambil inisiatif serangan. Tekanan tanpa henti dari tim asuhan Hendri Susilo ini membuat pertahanan PSBS Biak kewalahan. Gol pembuka lahir pada menit ke-16 melalui aksi Gustavo Franca yang sukses memaksimalkan peluang di depan gawang lawan, mempertegas dominasi tuan rumah.
Tak hanya sampai di situ, Malut United terus menggempur. Jelang berakhirnya babak pertama, tepatnya menit ke-40, Yakob Sayuri menggandakan keunggulan Laskar Kie Raha setelah menerima umpan matang dari Tyronne Del Pino. Skor 2-0 bertahan hingga jeda, tanpa adanya respons berarti dari tim tamu.
Hujan Gol di Babak Kedua
Memasuki babak kedua, Malut United tidak mengendurkan serangannya. Enam menit setelah jeda, Tyronne Del Pino mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-51, memanfaatkan assist dari David Da Silva. Lima menit berselang, giliran David Da Silva yang menjebol gawang PSBS Biak, membuat keunggulan Malut United semakin jauh menjadi 4-0.
PSBS Biak sempat memperkecil ketertinggalan melalui gol Yano Putra pada menit ke-68. Namun, Malut United merespons cepat. Mereka mendapatkan hadiah penalti pada menit ke-71 setelah Ciro Alves dilanggar di kotak terlarang. Ciro Alves yang maju sebagai eksekutor menjalankan tugasnya dengan sempurna, mengubah skor menjadi 5-1.
Meski tertinggal jauh, PSBS Biak tidak menyerah begitu saja. Heri Susanto berhasil mencetak gol kedua bagi tim tamu pada menit ke-80 melalui tendangan keras dari dalam kotak penalti. Namun, pesta gol Malut United ditutup oleh Frets Butuan pada menit kedua waktu tambahan babak kedua, mengunci kemenangan telak 6-2.
Makna Emosional di Balik Skor Fantastis
Kemenangan 6-2 Malut United atas PSBS Biak bukan sekadar angka di papan skor. Bagi Malut United, hasil ini menjadi penegasan eksistensi mereka sebagai tim promosi yang patut diperhitungkan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Malut United telah menunjukkan performa gemilang di Liga 1 musim sebelumnya (2024/2025) dengan finis di posisi ketiga, sebuah pencapaian luar biasa untuk tim debutan. Kemenangan telak ini menegaskan konsistensi dan ambisi mereka untuk terus bersaing di papan atas, membangkitkan euforia besar di kalangan pendukung dan masyarakat Maluku Utara.
Di balik gemuruh Stadion Gelora Kie Raha yang berpesta, terdapat narasi emosional yang mungkin terlewatkan dalam laporan skor semata. Bagi Malut United, skor 6-2 adalah deklarasi bahwa mereka bukan lagi tim “pendatang baru” yang hanya numpang lewat, melainkan kekuatan yang siap menantang dominasi. Ini adalah momen kebanggaan kolektif, hasil dari kerja keras, strategi, dan dukungan penuh yang telah membangun tim ini sejak promosi. Peran mantan pemain Persib yang kini menjadi motor serangan Malut United, seperti yang disoroti beberapa media, juga menambah dimensi emosional tersendiri bagi para penggemar sepak bola di Indonesia.
Sebaliknya, bagi PSBS Biak, kekalahan telak ini menjadi momen refleksi yang mendalam. Sebagai juara bertahan Liga 2 yang baru promosi bersama Malut United dan Semen Padang ke Liga 1, ekspektasi terhadap PSBS Biak tentu tinggi. Dibantai dengan selisih empat gol oleh sesama tim promosi, meskipun Malut United telah menunjukkan performa lebih stabil di Liga 1 sebelumnya, bisa menimbulkan pertanyaan tentang arah dan strategi tim ke depan. Momen emosional yang terlewatkan di sini adalah beban psikologis dan kebutuhan mendesak untuk bangkit, demi menjaga reputasi dan posisi mereka di Super League.