— Nama Veda Ega Pratama mendadak ramai dibicarakan di paddock Kejuaraan Dunia Moto3 musim 2026. Pembalap muda asal Indonesia itu mendapat julukan tak biasa: “Travis Pastrana Moto3”. Sebutan ini muncul dari internal tim Honda Team Asia yang menilai gaya balap Veda sangat berani, agresif, dan penuh risiko—mengingatkan pada karakter balap ekstrem milik Travis Pastrana.

Julukan tersebut bukan sekadar gimmick. Sejumlah pengamat dan kru tim di paddock menilai Veda memiliki keberanian di atas rata-rata pembalap seusianya dalam mengambil celah menyalip, melakukan late braking, serta mempertahankan racing line dalam duel rapat di grup depan Moto3.

Comeback Sensasional Veda Ega Pratama di Jerez Tuai Pujian Media Jerman

Jejak Karier: Dari Motocross ke Lintasan Aspal Dunia

Lahir di Wonosari, Gunungkidul, DI Yogyakarta, pada 23 November 2008, Veda tumbuh di keluarga balap. Ayahnya, Sudarmono, adalah mantan pembalap nasional yang mengenalkan dunia roda dua sejak dini. Veda mulai berlatih minibike pada usia lima tahun, lalu mengasah naluri balapnya di arena motocross kelas 50cc saat berusia delapan tahun.

Perpindahan ke balap aspal menjadi titik penting. Pada 2018, ia mulai menonjol di level nasional melalui Honda Dream Cup dan Motoprix. Konsistensi itu membuatnya direkrut Astra Honda Racing Team pada 2021.

Namanya benar-benar melejit ketika tampil di Asia Talent Cup. Pada musim 2023, Veda tampil dominan dengan sembilan kemenangan dari 12 balapan dan menjadi pembalap Indonesia pertama yang menjuarai ajang tersebut.

Pintu Menuju Grand Prix Terbuka Lewat Red Bull Rookies Cup

Prestasi di level Asia mengantarkan Veda ke Red Bull Rookies Cup. Musim 2024 ia tutup di papan tengah, namun lonjakan performa terjadi pada 2025 saat ia finis sebagai runner-up klasemen akhir.

Hasil itu krusial. Regulasi memberi pengecualian usia bagi tiga besar Rookies Cup untuk langsung naik ke Grand Prix. Kesempatan ini dimanfaatkan Veda, yang diumumkan resmi menjadi pembalap reguler Honda Team Asia di Moto3 musim 2026.

Bos Honda Team Asia Akui Balapan Moto3 Spanyol “Kacau”, tapi Soroti Performa Gemilang Veda Ega

Debut Moto3 yang Langsung Mengundang Perhatian

Pada seri pembuka Moto3 2026 di Chang International Circuit, Thailand, Veda langsung menembus posisi lima besar. Hasil tersebut menjadi capaian debut terbaik pembalap Indonesia di kelas Moto3.

Sorotan makin besar saat seri berikutnya di Brasil. Di Autodromo Internacional Ayrton Senna Goiania, Veda finis ketiga dan mencetak sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang naik podium di Kejuaraan Dunia Grand Prix.

Performa impresif berlanjut di GP Spanyol. Start dari posisi ke-17, Veda mampu merangsek ke depan dan finis keenam—menunjukkan kombinasi agresivitas dan kontrol balap yang matang meski berstatus rookie.

Asal-Usul Julukan ‘Travis Pastrana Moto3’

Di paddock, gaya balap Veda kerap menjadi bahan pembicaraan. Ia dikenal berani membuka throttle lebih awal saat keluar tikungan, agresif saat overtake di tikungan sempit, dan tidak ragu mengambil risiko dalam duel beruntun di grup besar Moto3.

Karakter ini dinilai mirip dengan gaya Travis Pastrana, legenda balap ekstrem Amerika yang dikenal lewat aksi nekat di freestyle motocross, reli, hingga NASCAR. Pastrana terkenal sebagai pembalap yang menembus batas rasa takut—citra yang kini dilekatkan pada Veda oleh timnya sendiri.

Kehadiran Veda di barisan depan Moto3 bukan hanya soal hasil lomba. Ia membawa eksposur baru bagi pembalap Indonesia di level tertinggi balap motor dunia. Konsistensinya di awal musim 2026 membuat namanya mulai diperhitungkan dalam persaingan papan atas dan membuka optimisme lahirnya generasi baru pembalap Indonesia di Grand Prix.

Persiapan Matang yang Perlu Dilakukan Veda Ega Pratama untuk Naik Kelas ke Moto2

Di usia yang belum genap 18 tahun saat debut, Veda menunjukkan bahwa jalur pembinaan berjenjang dari level nasional, Asia, hingga Eropa dapat benar-benar mengantar pembalap Indonesia menembus panggung dunia.