Detak.media — Langkah Timnas Argentina ke semifinal Piala Dunia 2026 tidak hanya diwarnai penampilan Lionel Messi dan rekan-rekannya. Perjalanan La Albiceleste juga dibayangi gelombang kritik atas sejumlah keputusan wasit yang memicu julukan “VARgentina” di media sosial.
Julukan itu muncul setelah beberapa intervensi Video Assistant Referee (VAR) dianggap menguntungkan Argentina. Puncaknya terjadi pada perempat final melawan Swiss, ketika penyerang Breel Embolo menerima kartu kuning kedua karena dianggap melakukan simulasi setelah tinjauan VAR.
Pelatih Swiss Murat Yakin menyebut keputusan itu “tidak dapat diterima”.
FIFA menanggapi kritik dengan merujuk pada pernyataan Kepala Perwasitan Pierluigi Collina pada 8 Juli lalu. Collina sebelumnya membantah tudingan bahwa Argentina mendapat perlakuan istimewa dalam kemenangan atas Mesir di babak 16 besar.
Protokol VAR Baru Jadi Pemicu
Kontroversi kian memanas setelah penerapan protokol VAR baru yang mulai berlaku pada musim 2026-2027 dan langsung digunakan di Piala Dunia 2026. Salah satu perubahan memungkinkan VAR mengoreksi kasus salah identitas penerima kartu, termasuk dalam situasi yang turut mengubah keputusan dasar pertandingan.
Mantan wasit FIFA dan analis peraturan ITV, Christina Unkel, menilai aturan baru tersebut diterapkan terlalu luas. Menurut dia, VAR kini bukan hanya memperbaiki identitas pemain yang dihukum, tetapi juga mengubah arah keputusan pertandingan secara keseluruhan.
“Menurut saya aturan itu seharusnya tidak diterapkan sejak awal. Ruangnya terlalu luas. Kita bukan hanya mengganti siapa yang mendapat kartu, tetapi juga mengubah keputusan dasar pertandingan. Di sinilah VAR mulai masuk ke wilayah ‘mengadili ulang’ pertandingan,” ujar Unkel.
Unkel menambahkan bahwa fakta keputusan yang dinilai menguntungkan Argentina memperbesar kemarahan publik. “Perluasan protokol ini diterapkan tanpa pengujian yang memadai. Situasinya seperti bom waktu dan saya khawatir akan ada kontroversi yang lebih besar lagi,” katanya.
Kontroversi Sejak Fase Grup
Perdebatan tentang keputusan wasit yang melibatkan Argentina sebenarnya sudah muncul sejak fase grup. Aljazair sempat meminta Lionel Messi mendapat kartu merah setelah menginjak betis kapten mereka, Aissa Mandi. Wasit tidak mengeluarkan kartu merah, dan Messi mencetak hattrick pada laga tersebut. Federasi Sepak Bola Aljazair kemudian mengajukan protes atas kepemimpinan wasit.
Kontroversi berlanjut di babak 16 besar melawan Mesir. Gol Mesir pada menit ke-62 dianulir setelah VAR menemukan adanya pelanggaran dalam proses terciptanya gol. Timnas Mesir juga merasa seharusnya mendapat penalti di penghujung laga sebelum Argentina mencetak gol kemenangan pada menit ke-92. Federasi Sepak Bola Mesir menilai sejumlah keputusan wasit memengaruhi hasil pertandingan.
Meskipun begitu, Unkel menegaskan bahwa menurut pandangannya keputusan wasit dalam laga melawan Aljazair maupun Mesir masih dapat dibenarkan sesuai regulasi. Namun, ia mengakui polemik di luar lapangan membuat kepercayaan publik terhadap sistem perwasitan FIFA menurun.
Sorotan terhadap konsistensi sanksi juga menambah kecemasan publik. FIFA dianggap memberikan perlakuan berbeda dalam dua kasus kartu merah di turnamen: penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun dibebaskan dari hukuman larangan bermain satu pertandingan, sementara bek Inggris Jarell Quansah dijatuhi sanksi dua pertandingan.
“Saya rasa kepercayaan suporter terhadap sistem saat ini benar-benar terkikis. Saya sudah meliput banyak turnamen besar sebagai analis dan mantan wasit, tetapi belum pernah melihat percakapan serta kecurigaan sebesar ini, bukan hanya di media sosial,” kata Unkel.
Sorotan Menjelang Semifinal
Di tengah semua kontroversi, Argentina melaju ke semifinal dan akan menghadapi Inggris pada Kamis (16/7/2026) pukul 02.00 WIB. Pertandingan itu dipastikan berlangsung di bawah sorotan tajam publik, yang akan kembali memperhatikan setiap keputusan wasit dan VAR.
Ikuti Detak.media
