— Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) jatuh tajam pada Jumat (10/7/2026), melanjutkan pelemahan selama dua hari berturut-turut. Pelemahan dipengaruhi oleh penguatan ringgit Malaysia serta koreksi harga minyak nabati di Bursa Dalian, China.

Penurunan terukur pada berbagai kontrak berjangka tercatat pada penutupan perdagangan. Kontrak Juli 2026 turun 27 Ringgit Malaysia menjadi 4.455 Ringgit per ton, sedangkan kontrak Agustus melemah 80 Ringgit menjadi 4.476 Ringgit per ton.

Pergerakan Kontrak Berjangka

Kontrak berjangka untuk September 2026 turun 81 Ringgit menjadi 4.513 Ringgit per ton, Oktober turun 80 Ringgit menjadi 4.547 Ringgit per ton, dan November terpangkas 77 Ringgit menjadi 4.582 Ringgit per ton. Kontrak Desember 2026 juga melemah 77 Ringgit menjadi 4.612 Ringgit per ton.

Data Produksi dan Persediaan

Berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dikutip TradingView, persediaan minyak sawit Malaysia pada Juni 2026 naik 4,8% dibandingkan Mei, mencapai level tertinggi dalam empat bulan terakhir.

Sementara itu, produksi CPO Malaysia meningkat 8,1% secara bulanan seiring membaiknya produksi musiman. Kenaikan produksi diperkirakan berlanjut, terutama setelah beberapa pabrik di Perak mengalami kesulitan mengolah lonjakan pasokan tandan buah segar (TBS).

Permintaan Global dan Impor India

Dari sisi permintaan, impor minyak sawit India pada Juni turun ke level terendah dalam 14 bulan terakhir. Penurunan ini dikaitkan dengan konsumsi domestik yang masih lesu dan mengecilnya selisih harga minyak sawit terhadap minyak nabati pesaing.

Meski tekanan harga terlihat, kontrak CPO masih berpeluang mencatat kenaikan mingguan pertama dalam tiga pekan, didukung sentimen dari implementasi program biodiesel B50 di Indonesia. Kebijakan tersebut diperkirakan mendorong konsumsi minyak sawit Indonesia menjadi sekitar 16,3 juta hingga 17 juta ton pada tahun ini, naik dari proyeksi sebelumnya 15,2 juta ton.

Ekspor Malaysia

Survei kargo menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia pada periode 1-5 Juli naik sekitar 10,6%-11,1% dibandingkan periode yang sama pada Juni. Pelaku pasar kini menunggu data ekspor lengkap untuk 10 hari pertama Juli guna memperoleh gambaran lebih jelas mengenai prospek permintaan global terhadap minyak sawit.