Prospek Saham BUMI dan DEWA, Analis Paparkan Target Harga dan Katalis Pergerakan

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) terpantau menguat tajam pada perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin (5/1/2026). Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya minat investor institusional, termasuk aksi borong dari investor asing.

Saham BUMI meroket 10 persen ke level Rp462 per saham, dengan kapitalisasi pasar menyentuh Rp171,56 triliun. Nilai transaksi saham BUMI tercatat fantastis sebesar Rp4,82 triliun, menandakan tingginya likuiditas dan minat pasar. Dalam enam bulan terakhir, saham BUMI telah melonjak sekitar 308,85 persen.

Sejalan dengan itu, saham DEWA juga menunjukkan performa positif dengan kenaikan 2 persen ke level Rp765 per saham. Nilai transaksi DEWA mencapai Rp1,27 triliun dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp31,13 triliun. Secara historis, saham DEWA telah mencatatkan kenaikan impresif hingga 334,66 persen dalam enam bulan terakhir.

Aksi Investor Asing dan Agenda Korporasi Jadi Katalis

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai saham BUMI menjadi sorotan utama pasar. Hal ini didorong oleh pembelian signifikan oleh investor asing senilai sekitar Rp889 miliar.

Menurut Hendra, arus dana masuk tersebut selaras dengan langkah korporasi BUMI yang dinilai progresif. Ia menyoroti upaya quasi reorganisasi yang dilakukan BUMI sebagai langkah krusial untuk memperbaiki struktur permodalan perusahaan.

Selain itu, strategi diversifikasi pendapatan ke sektor di luar batu bara turut memperkuat persepsi positif investor terhadap prospek jangka menengah emiten tersebut. “Dengan kombinasi dukungan likuiditas, quasi reorganisasi, dan agenda diversifikasi bisnis, prospek BUMI terlihat positif dalam jangka pendek hingga menengah,” ujar Hendra saat dihubungi, Senin (5/1/2026).

Berdasarkan sentimen tersebut, Hendra mematok target jangka pendek saham BUMI di level Rp500. Jika kondisi eksternal tetap kondusif dan agenda korporasi berjalan sesuai rencana, saham BUMI berpeluang menguat hingga Rp600 dalam rentang satu hingga tiga bulan ke depan.

Meskipun demikian, ia mengingatkan investor untuk tetap mencermati potensi risiko koreksi jangka pendek. Risiko ini antara lain aksi ambil untung pasca reli agresif, fluktuasi harga komoditas global, serta potensi tekanan jual dari pemegang saham besar.

Jejak Akumulasi Investor Institusional

Minat investor institusional terhadap saham BUMI juga terlihat jelas dari aktivitas perdagangan pada Jumat (2/1/2026). Sekuritas global JP Morgan tercatat membeli sekitar 6 juta saham BUMI di harga rata-rata Rp407 per saham.

Sementara itu, UBS Sekuritas memborong sekitar 16,4 juta saham BUMI di kisaran harga Rp402. Pada perdagangan tersebut, saham BUMI ditutup menguat di level Rp420 per saham.

Prospek dan Target Harga Saham DEWA

Di tengah lonjakan permintaan pasar, Hendra juga menilai saham DEWA masih menarik untuk dicermati. Sejak awal tahun, pembelian bersih investor asing terhadap saham DEWA tercatat mencapai sekitar Rp204 miliar.

Aksi korporasi seperti konversi utang dan rencana buyback dinilai turut memperkuat kepercayaan pasar terhadap emiten ini.

Hendra memproyeksikan target harga jangka menengah saham DEWA berada di level Rp800 per saham. Apabila akumulasi saham terus berlanjut dengan dukungan volume transaksi yang kuat, DEWA bahkan berpotensi menguji level Rp1.000 per saham.

“Katalis utama yang menopang skenario tersebut antara lain efektivitas penggunaan dana hasil penguatan permodalan, potensi perolehan kontrak jasa pertambangan baru, serta keberlanjutan minat investor institusional,” jelasnya.

Pandangan Sekuritas dan Risiko yang Perlu Dicermati

Dari sisi riset, BCA Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham DEWA. Sekuritas ini juga menaikkan target harga menjadi Rp1.100 per saham, dari sebelumnya Rp450.

Kenaikan target tersebut didorong oleh keyakinan terhadap kemampuan eksekusi manajemen, potensi kontrak besar baru, serta nilai strategis proyek emas Gayo.

Valuasi berbasis sum of the parts (SOTP) menunjukkan estimasi EV/EBITDA tahun buku 2026 (FY26F) sebesar 15,6 kali. Angka ini masih sekitar 58 persen lebih rendah dibandingkan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).

Dengan valuasi tersebut, DEWA dinilai memiliki potensi kenaikan harga hingga 64,2 persen.

Meski prospeknya positif, analis mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor. Faktor-faktor tersebut antara lain kondisi cuaca, potensi penurunan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya), melemahnya permintaan batu bara, keterbatasan pembiayaan, serta risiko eksekusi proyek Gayo.

Dengan dukungan arus modal asing dan realisasi agenda korporasi, saham BUMI dan DEWA diperkirakan masih memiliki prospek positif dalam beberapa bulan ke depan. Namun, volatilitas pasar dan risiko koreksi jangka pendek tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi oleh investor.