IHSG Cetak Rekor Tertinggi Baru, Ini Faktor Pendorongnya

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak rekor tertinggi baru pada perdagangan Selasa, 6 Januari 2026. Hingga penutupan sesi I, IHSG tercatat menguat 23,25 poin atau 0,26 persen ke level 8.882,44. Capaian ini sekaligus mengukuhkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) secara intraday di angka 8.905.

Penguatan signifikan ini sejalan dengan pergerakan positif bursa saham Asia yang turut mengikuti tren penguatan Wall Street. Fenomena ini mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi global, khususnya terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam riset hariannya menjelaskan bahwa pasar global saat ini tengah memantau ketat perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, terutama laporan pasar tenaga kerja. Data pekerjaan bulan Desember 2025 yang dijadwalkan rilis pada Jumat, 9 Januari 2026, dinilai akan menjadi indikator krusial bagi arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

“Data tersebut akan memberikan sinyal lanjutan terkait prospek kebijakan suku bunga The Fed ke depan,” tulis Pilarmas dalam risetnya, Selasa (6/1/2026).

Dari sisi kebijakan moneter, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pernyataan Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari. Ia menyoroti adanya tekanan inflasi yang masih berlangsung serta potensi peningkatan tingkat pengangguran. Kashkari juga mengindikasikan bahwa suku bunga acuan AS kemungkinan sudah mendekati level netral.

Menurut Pilarmas, pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap peluang pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Fed pada tahun ini. Hal ini menjadi katalis positif bagi aset berisiko, termasuk pasar saham di negara berkembang seperti Indonesia.

Stimulus Pemerintah Topang Optimisme Pasar Domestik

Dari dalam negeri, penguatan IHSG juga mendapatkan sokongan dari sejumlah kebijakan stimulus yang digelontorkan pemerintah. Pilarmas menilai pemerintah kembali memberikan dorongan fiskal melalui perpanjangan insentif Pajak Penghasilan (PPh) bagi pekerja di sektor padat karya hingga tahun 2026. Kebijakan ini dirancang untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus meningkatkan stabilitas ketenagakerjaan.

Selain itu, pemerintah melanjutkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian rumah tapak dan rumah susun pada tahun anggaran 2026. Insentif ini berpotensi mendorong sektor properti dan sektor-sektor pendukungnya, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap pergerakan IHSG.

“IHSG hari ini ditopang oleh keberlanjutan stimulus fiskal, baik dari sisi konsumsi rumah tangga maupun sektor properti,” jelas Pilarmas.

Pada perdagangan sesi pertama, sejumlah saham menunjukkan penguatan signifikan, di antaranya INPC, ECII, GSMF, BIPI, dan BSIM. Sementara itu, saham-saham yang bergerak di zona pelemahan meliputi MPXL, KLAS, CPRO, PORT, dan TRON.

Rekomendasi Saham untuk Sesi II

Seiring dengan kondisi pasar yang masih positif, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham PT Ratu Prabu Energi Tbk (RATU) untuk perdagangan sesi II. Saham RATU direkomendasikan beli dengan area support di kisaran 10.200 dan resistance di level 11.650.

Dengan kombinasi sentimen global yang kondusif dan dukungan stimulus domestik, pergerakan IHSG diperkirakan masih memiliki ruang penguatan. Meski demikian, pelaku pasar tetap diimbau untuk mencermati volatilitas jangka pendek dan rilis data ekonomi global yang akan datang.