IHSG Berpeluang Menguat Awal Pekan 5 Januari 2026, Didorong Prospek Laba dan Kebijakan Akomodatif
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan tren positif pada pembukaan perdagangan pekan ini, Senin, 5 Januari 2026. Penguatan diperkirakan didorong oleh prospek pertumbuhan laba perusahaan, kebijakan moneter global yang kian akomodatif, serta dukungan kebijakan fiskal yang tetap ekspansif.
Sentimen positif juga datang dari pasar saham global, khususnya Amerika Serikat (AS). Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, menilai kinerja Saham AS masih memberikan dampak positif bagi pasar domestik. Ia mencatat bahwa pertumbuhan laba perusahaan di AS pada 2026 tidak lagi hanya terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar, melainkan mulai meluas ke sektor dan emiten lain.
Hans Kwee menyoroti kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), sebagai faktor penopang pergerakan pasar. The Fed diperkirakan semakin mendekati posisi suku bunga netral, dengan potensi pemangkasan suku bunga sebanyak dua kali pada Maret dan Juni 2026.
“Hal ini menciptakan ruang likuiditas yang lebih longgar dan mendukung aset berisiko, termasuk pasar saham di negara berkembang seperti Indonesia,” ujar Hans dalam analisisnya.
Data Ekonomi Domestik Jadi Perhatian
Dalam jangka pendek, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis data ekonomi domestik. Pekan depan, data inflasi Indonesia diperkirakan berada pada level relatif rendah, seiring stabilnya harga pangan dan energi. Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia diproyeksikan kembali mencatatkan surplus, didukung oleh kinerja ekspor komoditas utama.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, Hans memproyeksikan IHSG pada perdagangan Senin bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat. Level support diperkirakan berada di kisaran 8.537–8.664, sedangkan level resistance berada pada rentang 8.776–8.800.

Sebelumnya, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan Jumat, 2 Januari 2026, ditutup menguat 101,19 poin atau 1,17 persen ke posisi 8.748,13. Penguatan ini mencerminkan optimisme pelaku pasar pada awal tahun 2026. Sejalan dengan IHSG, indeks saham unggulan LQ45 juga naik 5,42 poin atau 0,64 persen ke level 852,00.
Fundamental Manufaktur Tetap Kokoh
Dari sisi fundamental domestik, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai kondisi sektor manufaktur masih menunjukkan ketahanan. Meski terjadi perlambatan, indeks manufaktur Indonesia tetap berada di zona ekspansi.
“Posisi indeks manufaktur yang masih berada di atas level ekspansi mencerminkan aktivitas manufaktur yang tetap tumbuh secara stabil, meskipun laju pertumbuhannya melambat,” ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, akhir pekan lalu.
Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu penopang optimisme pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional dan kinerja emiten pada awal 2026.