IHSG Bangkit 0,39% di Sesi I, Investor Lirik Saham Energi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membalikkan arah dan ditutup menguat pada penutupan sesi pertama perdagangan Jumat, 9 Januari 2026. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini terapresiasi 0,39% atau naik 34,76 poin, mengakhiri sesi di level 8.960,23. Penguatan ini membawa IHSG semakin mendekati level psikologis 9.000, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) intraday di kisaran 9.002 pada sesi sebelumnya.

Kenaikan IHSG pada sesi I hari ini didorong oleh aksi beli investor pada mayoritas sektor saham, sejalan dengan sentimen positif yang menyelimuti bursa regional Asia. Sebanyak 358 saham tercatat menguat, sementara 301 saham melemah, dan 153 saham sisanya stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp15,21 triliun, melibatkan 32,84 miliar saham yang diperdagangkan dalam 2,08 juta kali transaksi.

Performa Sektoral dan Saham Unggulan

Mayoritas indeks sektoral turut menopang kenaikan IHSG. Sektor siklikal memimpin penguatan dengan melonjak 3,32%, diikuti oleh sektor properti yang meningkat 1,73%, dan sektor energi yang menguat 1,64%. Sektor-sektor lain yang juga menunjukkan kinerja positif antara lain kesehatan (+1,42%), bahan baku (+0,99%), industrial (+0,66%), non-siklikal (+0,36%), dan transportasi (+0,28%).

Di antara saham-saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi top gainers dengan kenaikan 4,27% ke level Rp1.465. Disusul oleh PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang masing-masing menguat 3,48%. Saham BUMI bahkan mencatat nilai transaksi tertinggi dengan Rp4,16 triliun.

Sentimen Positif Domestik dan Global

Penguatan IHSG tidak terlepas dari optimisme pelaku pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang solid dan prospek kinerja perusahaan di awal tahun 2026. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, sebelumnya juga menyampaikan keyakinan bahwa IHSG berpeluang menembus level 10.000 pada tahun ini, didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat dan peran investor domestik yang meningkat.

Di samping itu, sentimen positif dari kebijakan moneter global juga turut memengaruhi. Sikap dovish The Federal Reserve (The Fed) yang telah memangkas suku bunga acuan dan perkiraan pemangkasan tambahan pada 2026, menjadi katalis bagi aset berisiko termasuk pasar saham di negara berkembang. Bursa saham Asia secara keseluruhan terpantau kompak menghijau, seperti Nikkei 225 Jepang, Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite Index China, dan Straits Times Index Singapura.

Catatan Transaksi dan Pergerakan Lain

Meski IHSG menguat, beberapa sektor tercatat mengalami pelemahan. Sektor infrastruktur terkoreksi 1,30%, diikuti sektor teknologi yang turun 0,25%, dan sektor keuangan melemah 0,17%. Di sisi lain, nilai tukar rupiah justru menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat, turun 0,22% ke Rp16.835 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg.

Aktivitas pengawasan bursa juga berlangsung. Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mensuspensi perdagangan sejumlah saham emiten yang mengalami lonjakan harga tajam secara tidak wajar atau masuk kategori Unusual Market Activity (UMA). Saham-saham yang terkena suspensi termasuk PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY), PT Prima Globalindo Logistik Tbk (PPGL), PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD), dan PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) demi melindungi kepentingan investor. Selain itu, BEI juga memantau ketat pergerakan saham PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM) dan PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) yang juga terindikasi UMA.