BEI Suspensi 4 Saham Emiten Akibat Lonjakan Harga Tajam

Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengambil langkah tegas untuk meredam gejolak pasar dengan menghentikan sementara atau mensuspensi perdagangan sejumlah saham emiten. Keputusan ini diambil pada perdagangan Jumat, 9 Januari 2026, menyasar emiten yang mencatat lonjakan harga tajam dalam waktu singkat.

Emiten yang terkena suspensi berasal dari beragam sektor. Keempat perusahaan tersebut adalah PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY), PT Prima Globalindo Logistik Tbk (PPGL), PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD), dan PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS). BEI menilai terdapat peningkatan harga kumulatif yang signifikan pada keempat saham tersebut.

Demi melindungi kepentingan investor, bursa memutuskan untuk menghentikan sementara perdagangan saham-saham tersebut di Pasar Reguler dan Pasar Tunai. Penghentian berlaku mulai sesi I pada 9 Januari 2026 hingga ada pengumuman lebih lanjut dari BEI.

“Bursa mengimbau kepada pihak-pihak berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh perusahaan,” tulis Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Yulianto Aji Sadono dalam pengumuman resmi, Kamis (8/1/2026).

Lonjakan harga saham emiten-emiten tersebut memang terbilang mencolok. Dalam sebulan terakhir hingga Kamis (8/1/2026), saham LUCY melesat hingga 259,91 persen ke level Rp 835 per saham. LUCY merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan dan jasa, dengan fokus utama pada sektor hospitality dan food & beverage (F&B).

Saham PPGL juga tak kalah agresif dengan kenaikan 109,23 persen ke posisi Rp 272 per saham. Prima Globalindo Logistik didirikan pada tahun 2015 dan menyediakan jasa pengiriman barang untuk ekspor dan impor.

Sementara itu, saham LEAD tercatat melonjak 150,55 persen dalam sebulan terakhir ke level Rp 228 per saham. Perseroan dikenal sebagai operator penyedia kapal pendukung lepas pantai (offshore support vessel/OSV) di Indonesia, yang berfokus pada layanan pendukung industri kelautan, khususnya sektor hulu minyak dan gas bumi (migas).

Adapun saham NSSS menguat 93,80 persen dan terakhir diperdagangkan di level Rp 1.250 per saham. Sejak awal pendirian, NSSS bergerak di sektor pertanian dan perkebunan kelapa sawit, mencakup bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, pengembangan agroindustri, agrobisnis, industri pertanian, serta perkebunan tanaman industri dan kelapa sawit.

Selain kegiatan hulu, perseroan juga menjalankan usaha perdagangan hasil-hasil pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Aktivitas perdagangan ini mencakup ekspor, impor, perdagangan lokal dan antarpulau, serta berperan sebagai leveransir, pemasok, grosir, distributor, hingga perwakilan perusahaan lain dari dalam dan luar negeri.