Detak.media — Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mengalami lonjakan pada penutupan perdagangan Senin (13/7/2026). Penguatan datang menyusul tekanan tajam yang sempat melanda pasar beberapa sesi sebelumnya.
Berdasarkan data BMD pada penutupan Senin (13/7/2026), kontrak berjangka CPO untuk Juli 2026 menguat 17 Ringgit Malaysia menjadi 4.472 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Agustus 2026 juga naik 17 Ringgit Malaysia menjadi 4.493 Ringgit Malaysia per ton.
Lonjakan Kontrak Berjangka Seluruh Seri
Seri berjangka yang lebih jauh turut terkerek: kontrak September 2026 naik 20 Ringgit Malaysia menjadi 4.533 Ringgit Malaysia per ton, Oktober 2026 meningkat 19 Ringgit Malaysia menjadi 4.566 Ringgit Malaysia per ton, serta November 2026 bertambah 19 Ringgit Malaysia menjadi 4.601 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Desember 2026 mencatat kenaikan 21 Ringgit Malaysia menjadi 4.633 Ringgit Malaysia per ton.
Faktor Pendukung Kenaikan
Berdasarkan catatan TradingView, beberapa faktor mendorong reli harga, antara lain pelemahan nilai tukar ringgit, penguatan harga minyak nabati di bursa Dalian dan Chicago, serta lonjakan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Sentimen positif juga datang dari data kinerja ekspor Malaysia. Menurut perusahaan survei kargo, pengiriman CPO pada 1-10 Juli meningkat sekitar 1,6%–5,1% dibandingkan periode yang sama pada Juni.
Prospek Permintaan Dari Indonesia
Di Indonesia, prospek permintaan CPO diperkirakan menguat menyusul rencana pemerintah meningkatkan mandatori biodiesel dari B40 menjadi B50. Kebijakan tersebut diperkirakan akan mendorong konsumsi minyak sawit domestik menjadi 16,3 juta–17 juta ton pada tahun ini, naik dari sekitar 15,2 juta ton pada 2025.
Pembatasan oleh Pasokan dan Permintaan Ekspor
Meski demikian, reli harga CPO masih dibatasi oleh meningkatnya pasokan di Malaysia. Malaysian Palm Oil Board (MPOB) melaporkan stok minyak sawit pada Juni naik 4,8% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Pada saat yang sama, produksi meningkat 8,1% seiring masuknya musim panen.
Dari sisi permintaan, tekanan datang dari India, importir minyak sawit terbesar dunia. Impor CPO India pada Juni turun ke level terendah dalam 14 bulan akibat melemahnya permintaan serta semakin tipisnya selisih harga antara minyak sawit dan minyak nabati pesaing.
Pelaku pasar tetap bersikap hati-hati menjelang rilis data perdagangan Juni dan produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2026 China, yang dinilai akan memberikan gambaran mengenai prospek permintaan dari salah satu konsumen utama minyak sawit dunia.
Ikuti Detak.media
