Detak Media — Bos teknis Ducati Corse, Luigi Dall’Igna, melontarkan kritik terhadap sistem konsesi MotoGP yang dinilai mulai mengganggu prinsip sportivitas dalam persaingan kelas premier. Menurutnya, MotoGP seharusnya tetap menjadi ajang di mana tim terbaik bisa menang secara murni tanpa intervensi regulasi yang terlalu besar.
Pernyataan itu muncul di tengah mulai terancamnya dominasi Ducati pada musim MotoGP 2026. Setelah mendominasi enam gelar konstruktor beruntun dan melahirkan empat juara dunia pembalap terakhir, performa pabrikan asal Italia tersebut kini mulai mendapat tekanan dari rival-rivalnya.
Aprilia Racing menjadi tim yang paling menonjol musim ini. Duo Marco Bezzecchi dan Jorge Martin sukses membawa Aprilia bersaing di papan atas klasemen sementara pembalap. Sementara itu, Fabio Di Giannantonio dari tim VR46 Ducati masih tertinggal 26 poin dalam perebutan gelar juara dunia.
Tidak hanya di klasemen pembalap, Aprilia juga unggul dalam persaingan klasemen tim. Situasi tersebut membuat Ducati menghadapi ancaman serius kehilangan dominasinya untuk pertama kali dalam beberapa musim terakhir.
Ducati Soroti Efek Sistem Konsesi
MotoGP kembali menerapkan sistem konsesi sejak 2024 untuk membantu pabrikan yang tertinggal agar bisa lebih kompetitif. Melalui aturan itu, tim dengan performa lebih rendah mendapat keuntungan tambahan berupa jatah tes lebih banyak, pengembangan mesin lebih longgar, hingga wildcard tambahan di Grand Prix.
Saat ini Aprilia, KTM, dan Honda masih berada dalam tier konsesi yang lebih menguntungkan dibanding Ducati. Ketiga pabrikan itu mendapatkan sekitar 50 ban tes tambahan dan fleksibilitas pengembangan yang lebih besar.
Dall’Igna menilai sistem tersebut memang efektif membantu rival mengejar ketertinggalan. Namun ia menegaskan bahwa dalam olahraga murni, dominasi tim terbaik seharusnya tidak dibatasi oleh regulasi.
“Ini adalah perbedaan antara hiburan dan olahraga. Jika MotoGP benar-benar olahraga murni, maka sistem konsesi tidak akan pernah ada,” ujar Dall’Igna kepada Moto IT.
Ia kemudian memberikan analogi dengan atlet lompat galah dunia, Armand Duplantis.
“Tidak mungkin seseorang meminta Duplantis memakai galah lebih pendek dibanding atlet lain. Tetapi MotoGP bukan hanya olahraga, ini juga hiburan dengan biaya yang sangat besar sehingga kompromi memang diperlukan,” katanya.
Ducati Tak Ingin Cari Alasan
Meski mengkritik aturan tersebut, Dall’Igna menegaskan Ducati tidak ingin menjadikan sistem konsesi sebagai alasan utama menurunnya performa mereka musim ini.
Menurutnya, Aprilia dan pabrikan lain tetap layak mendapat apresiasi karena mampu memanfaatkan keuntungan regulasi dengan maksimal untuk meningkatkan performa motor mereka.
Namun ia berharap MotoGP tidak kehilangan identitas sebagai olahraga kompetitif.
“Hiburan itu penting, tetapi saya ingin MotoGP tetap menjadi olahraga di mana tim terbaik yang memenangkan kejuaraan,” lanjut Dall’Igna.
Ironi Ducati Bisa Dapat Konsesi
Menariknya, Ducati justru berpotensi mendapatkan status konsesi pada evaluasi performa setelah GP Jerman musim panas nanti. Jika hasil mereka terus menurun, Ducati bisa turun dari peringkat A ke peringkat B dalam sistem evaluasi MotoGP.
Apabila itu terjadi, Ducati nantinya akan memperoleh tambahan sesi pengujian dan keuntungan teknis lain yang sebelumnya hanya dimiliki para rival mereka.
Situasi tersebut menjadi ironi tersendiri bagi Ducati. Setelah bertahun-tahun menjadi tim paling dominan di MotoGP, mereka kini mulai merasakan langsung dampak dari regulasi yang sebelumnya membantu pabrikan lain mengejar ketertinggalan.
Ikuti Detak Media
