Detak.Media — Dua kereta api bertabrakan di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, merenggut nyawa tujuh orang dan melukai 81 lainnya. Insiden maut ini bermula dari tabrakan sebuah taksi listrik dengan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line di perlintasan sebidang dekat Bulak Kapal, yang menyebabkan KRL berhenti mendadak di jalur stasiun, sebelum akhirnya dihantam dari belakang oleh Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek.
Kronologi Kejadian
Kecelakaan yang menggemparkan ini terjadi sekitar pukul 20.50 hingga 20.57 WIB. Menurut keterangan yang dihimpun dari penumpang yang selamat dan pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI), serangkaian peristiwa nahas ini diawali oleh insiden yang terpisah di perlintasan sebidang kawasan Bulak Kapal.

Pada Senin malam itu, KRL Commuter Line yang melaju dari arah Jakarta menuju Cikarang terlibat kecelakaan dengan sebuah mobil taksi listrik di perlintasan sebidang. Insiden ini terjadi sekitar pukul 21.00 WIB. Akibat dari tabrakan tersebut, KRL terpaksa berhenti mendadak di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur, diduga mengganggu kelancaran sistem perkeretaapian di area emplasemen stasiun.
Beberapa saat setelah KRL berhenti, musibah yang lebih besar terjadi. KAJJ Argo Bromo Anggrek, yang sedang dalam perjalanan dari Gambir menuju Surabaya, tiba dari arah belakang KRL yang berhenti tersebut. Tanpa terhindarkan, KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL dengan keras. Hantaman kuat itu membuat lokomotif KA Argo Bromo Anggrek menembus gerbong paling belakang KRL Commuter Line. Tragisnya, gerbong yang paling parah terkena dampak adalah gerbong khusus wanita, menyebabkan banyak penumpang di dalamnya terjepit dan mengalami luka parah.
“Kejadiannya begitu cepat, kereta jarak jauh menabrak kami di KRL,” ujar salah seorang penumpang selamat, Andi (42), di lokasi kejadian. Ia menambahkan, “Yang ditabrak gerbong paling belakang, gerbong khusus wanita itu yang paling belakang.” Kesaksian lain dari penumpang selamat, Munir, mengkonfirmasi, “CommuterLine yang berhenti lantaran CommuterLine yang berlawanan arah menabrak satu unit mobil taksi.” Ia melanjutkan, “Pokoknya ditabrak dari arah belakang, gerbong masinis kereta jarak jauh itu sampai menembus gerbong paling belakang CommuterLine.”
Tanggapan dan Penanganan Awal
Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, pada Senin malam sempat menginformasikan, “Tercatat di rumah sakit ada dua korban meninggal dunia.” Namun, seiring berjalannya waktu dan dilakukannya pendataan lebih lanjut, angka tersebut terus bertambah. Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan, “Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini.”
Perkembangan terbaru pada Selasa, 28 April 2026 pagi, mencatat bahwa jumlah korban meninggal dunia telah mencapai tujuh orang. Sementara itu, 81 korban luka-luka segera dilarikan ke berbagai rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif. Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, pada Selasa dini hari, pukul 01.00 WIB, memperbarui data, “Per jam 01.00 (WIB) ini, korban meninggal dunia ada empat orang, yang kita observasi di 4-5 rumah itu ada 71 orang.” Pagi harinya, ia kembali memberikan update, “Jumlah korban yang terjadi kecelakaan kereta tadi malam, meninggal dunia itu 7 orang.” PT KAI menegaskan komitmennya untuk bertanggung jawab penuh atas seluruh biaya pengobatan para korban yang terluka.
Upaya Evakuasi dan Investigasi
Tim evakuasi gabungan yang terdiri dari petugas keamanan stasiun, pemadam kebakaran, tim medis, personel TNI, Polri, serta dibantu oleh warga sekitar, masih terus bekerja keras di lokasi kejadian. Mereka berupaya mengevakuasi korban yang mungkin masih terjebak di dalam gerbong KRL yang ringsek.
Akibat insiden ini, operasional perjalanan KRL di lintas Bekasi kini diberlakukan secara terbatas. Layanan hanya dapat menjangkau Stasiun Bekasi dan belum bisa melanjutkan perjalanan hingga Stasiun Cikarang. Sementara itu, pihak KAI bersama dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan segera melakukan investigasi mendalam untuk mengusut tuntas penyebab pasti dari kecelakaan tragis ini. Sebuah posko tanggap darurat juga telah didirikan di Stasiun Bekasi untuk memudahkan koordinasi penanganan insiden.
Ikuti Detak.Media
