— Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan hubungan antara dinamika politik dalam negeri dan keputusan investasi di pasar modal semakin lemah. Pernyataan ini menanggapi narasi yang beredar di media sosial yang mengaitkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan jadwal pidato Presiden Prabowo Subianto.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menilai anggapan bahwa naik turunnya IHSG dipicu oleh momentum pidato politik tidak mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya. Menurutnya, pergerakan indeks dipengaruhi oleh berbagai faktor fundamental.

Jeffrey menjelaskan bahwa faktor-faktor tersebut meliputi kondisi ekonomi domestik, kebijakan moneter, kinerja emiten, arus modal asing, serta sentimen pasar global. BEI menegaskan tidak bijak menyederhanakan fluktuasi pasar hanya dengan mengaitkannya pada satu atau dua peristiwa politik di dalam negeri.

BEI juga mencatat bahwa investor saat ini semakin mengedepankan analisis berbasis data dan rasionalitas ekonomi dalam pengambilan keputusan investasi. Peralihan ini, menurut BEI, mengurangi sensitivitas pasar terhadap isu-isu politis yang bersifat temporer.

Seiring meningkatnya kedewasaan pasar, keputusan investasi lebih banyak ditentukan oleh prospek ekonomi, stabilitas makro, serta fundamental perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. BEI menekankan pentingnya melihat gambaran menyeluruh daripada fokus pada satu peristiwa.