Motorola Masih Tertinggal di Pasar Smartphone, Tiga Faktor Besar Jadi Penyebab Utamanya
Setelah absen delapan tahun dari peredaran resmi, Motorola berupaya merebut kembali pangsa pasar smartphone di Indonesia pada 2025. Merek legendaris ini sempat mendominasi sebelum era modern, namun vakum panjang membuat namanya memudar dari ingatan konsumen, terutama generasi muda.
Kini, Motorola hadir dengan produk baru yang menawarkan fitur, desain, dan pengalaman pengguna menarik. Meski begitu, membangun kembali posisi di pasar yang sangat kompetitif setelah lama menghilang bukanlah tugas yang mudah. Perjalanan mereka masih dibayangi oleh tiga tantangan signifikan yang menghambat laju persaingan.
Brand Awareness Rendah di Kalangan Generasi Muda
Salah satu kendala terbesar Motorola adalah minimnya pengenalan merek di kalangan pengguna muda. Sementara Samsung, Xiaomi, OPPO, dan merek lainnya gencar memperkuat identitas mereka, Motorola justru kehilangan momentum.
Bagi pengguna lama, nama Motorola mungkin masih akrab berkat seri Razr dan ponsel klasik lainnya. Namun, bagi konsumen muda, merek ini terdengar asing karena kurang aktif di ruang publik digital. Minimnya promosi, kampanye media sosial, dan kolaborasi dengan influencer membuat pamor Motorola sulit bersaing.
Akibatnya, calon pembeli kerap ragu memilih Motorola, sekalipun produknya berkualitas. Citra merek yang belum stabil juga memengaruhi persepsi nilai jual kembali perangkat. Untungnya, Motorola mulai memperbaiki kepercayaan konsumen melalui kerja sama layanan purnajual dengan Primalayan, MitraCare, dan EZCare.
Komitmen Pembaruan Perangkat Lunak Belum Konsisten
Konsistensi pembaruan software menjadi sorotan, terutama pada perangkat kelas menengah seperti seri Moto G. Beberapa model sebelumnya dijanjikan hanya mendapat satu kali peningkatan versi Android, menimbulkan kekhawatiran perangkat cepat tertinggal.
Kasus Moto G86 Power menjadi contoh. Saat diluncurkan di Indonesia, pembaruan OS yang dijanjikan hanya satu kali, berbeda dengan wilayah lain yang mendapat dukungan lebih panjang. Hal ini memicu kritik konsumen yang menuntut perlakuan setara.
Menanggapi keluhan, Motorola Indonesia meninjau ulang kebijakan. Moto G86 Power kini mendapat dua kali peningkatan OS dan empat tahun pembaruan keamanan. Kendati demikian, dukungan ini masih belum seimbang dibanding pesaing yang menawarkan masa pembaruan lebih lama.
Selain itu, ketidakjelasan jadwal update OS untuk model lain menambah keraguan calon pembeli. Konsistensi dan keterbukaan kebijakan pembaruan akan krusial untuk membangun kepercayaan konsumen.
Pilihan Produk Masih Terbatas
Selain branding dan software, keterbatasan pilihan produk menjadi tantangan besar. Sejak aktif kembali pada 2025, jumlah perangkat yang dirilis resmi di Indonesia masih kalah jauh dari pesaing utama.
Kondisi ini membatasi pilihan konsumen di berbagai rentang harga, terutama pada kategori yang belum terjangkau Motorola. Beberapa model menarik yang dirilis global pun belum hadir di pasar Indonesia.
Situasi ini wajar bagi merek yang sedang membangun kembali fondasi bisnisnya. Motorola mulai memperluas lini produk dengan menghadirkan tablet seperti Moto Pad 60 Pro, Moto Pad 60 Lite, dan Moto Pad 60 Neo, menunjukkan ambisi merambah kategori lain. Diharapkan pada 2026, Motorola dapat menambah lebih banyak model di berbagai segmen harga.
Motorola berada pada fase krusial untuk bangkit di pasar Indonesia. Kualitas perangkat dan pendekatan software menjadi modal kuat. Namun, tantangan ini menunjukkan bahwa kualitas saja tidak cukup di pasar yang dinamis dengan strategi pemasaran agresif.
Branding kuat, dukungan software konsisten, dan portofolio produk beragam adalah kunci memenangkan hati konsumen. Jika tiga tantangan ini teratasi, Motorola berpotensi kembali menjadi pemain utama di pasar smartphone Indonesia.