Detak.Media — Meta dilaporkan mulai menguji layanan berlangganan baru bernama WhatsApp Plus untuk pengguna WhatsApp di Android dan iPhone. Paket premium ini disebut menghadirkan sejumlah fitur tambahan yang berfokus pada personalisasi tampilan aplikasi dan kemudahan pengelolaan percakapan, bukan pada perubahan besar di fitur komunikasi inti.
Laporan awal mengenai uji coba ini muncul dari media teknologi Digital Trends yang menyebut WhatsApp Plus saat ini masih diuji secara terbatas di sejumlah wilayah, termasuk Eropa.
Fitur Tambahan Lebih Bersifat Kosmetik
Berdasarkan laporan tersebut, WhatsApp Plus menghadirkan tema aplikasi baru, ikon kustom, ringtone eksklusif, hingga koleksi stiker premium. Pengguna juga disebut bisa mengatur warna antarmuka aplikasi dengan pilihan yang jauh lebih luas dibanding versi standar.
Namun, fitur-fitur tersebut dinilai lebih sebagai convenience feature atau peningkatan kenyamanan, bukan peningkatan kemampuan komunikasi utama seperti chat, panggilan suara, atau video call yang tetap sama antara pengguna gratis dan premium.
Salah satu fitur yang dianggap paling praktis adalah peningkatan batas pinned chat. Jika pada versi gratis pengguna hanya dapat menyematkan tiga percakapan, pada WhatsApp Plus jumlah ini disebut bisa meningkat hingga 20 chat sekaligus. Selain itu, terdapat opsi custom list dan bulk settings yang memungkinkan pengguna mengatur beberapa chat sekaligus dengan tema atau notifikasi tertentu.
Harga Berlangganan dan Skema Opsional
Di wilayah Eropa, harga WhatsApp Plus dilaporkan berada di kisaran EUR 2,49 per bulan atau sekitar Rp45 ribuan. Paket ini bersifat opsional. Artinya, pengguna gratis tetap dapat menikmati seluruh fitur utama WhatsApp seperti chat, panggilan suara, video call, grup, serta enkripsi end-to-end tanpa pembatasan.
Meta disebut menegaskan bahwa keberadaan WhatsApp Plus tidak akan menghapus atau mengurangi fitur inti bagi pengguna non-berbayar.
Mirip Strategi Snapchat dan Telegram
Pendekatan ini dinilai mirip dengan strategi yang sebelumnya diterapkan oleh Snapchat Plus dari Snap Inc. maupun Telegram Premium milik Telegram, di mana fitur tambahan ditawarkan tanpa memaksa pengguna biasa untuk berlangganan.
Meski demikian, Digital Trends menilai daya tarik fitur WhatsApp Plus masih tergolong lemah jika dibandingkan dengan Telegram. Pasalnya, Telegram sejak lama telah menyediakan banyak opsi personalisasi tampilan dan pengaturan antarmuka secara gratis tanpa biaya tambahan.
Laporan tersebut juga menyoroti potensi rendahnya minat pengguna untuk membayar hanya demi tema baru, ikon berbeda, atau ringtone eksklusif. Tambahan kapasitas pinned chat memang dinilai berguna, tetapi dianggap belum cukup kuat untuk mendorong mayoritas pengguna WhatsApp beralih ke paket berlangganan.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Meta dalam meyakinkan basis pengguna WhatsApp yang sangat besar dan selama ini terbiasa menikmati layanan sepenuhnya gratis.
Arah Baru Monetisasi Meta
Kehadiran WhatsApp Plus memperlihatkan arah baru strategi monetisasi Meta. Setelah memperkenalkan Meta Verified dan mulai menguji layanan premium lain seperti Instagram Plus di Instagram, Meta terlihat semakin agresif mengeksplorasi model pendapatan berbasis langganan di luar iklan.
Langkah ini menunjukkan bahwa Meta berupaya mencari sumber pemasukan baru dari ekosistem aplikasinya yang sudah memiliki miliaran pengguna aktif.
Hingga saat ini, WhatsApp Plus masih berada dalam tahap uji coba terbatas dan belum tersedia secara global. Meta juga belum mengumumkan jadwal peluncuran resmi untuk seluruh pengguna.
Karena masih dalam fase pengujian, fitur, harga, maupun skema layanan WhatsApp Plus masih sangat mungkin mengalami perubahan sebelum benar-benar dirilis secara luas.
Ikuti Detak.Media
