— Panggung semifinal Piala Dunia 2026 diyakini bakal tercatat dalam catatan sejarah. Empat tim mantan juara dunia—Argentina, Spanyol, Prancis, dan Inggris—berhasil menembus babak empat besar dan kini hanya berjarak dua kemenangan lagi untuk mengangkat trofi juara.

Turnamen menyajikan dua pertandingan berat yang disebut sebagai super big match: Prancis melawan Spanyol di Arlington, Texas, disusul laga Inggris menghadapi Argentina di Atlanta. Jika Prancis dan Argentina sama-sama melaju, pertandingan itu akan mengulang final Piala Dunia 2022.

Dua laga klasik itu muncul setelah empat kontestan semifinal semuanya berasal dari negara yang pernah menjadi juara dunia—fenomena yang terakhir terjadi pada Piala Dunia 1990.

Jadwal Semifinal dan Gambaran Umum

Prancis menghadapi Spanyol di Arlington, Texas, pada Selasa waktu setempat. Sehari kemudian, di Atlanta, Inggris bertemu Argentina pada Rabu (15/7/2026).

Keempat tim ini datang ke turnamen sebagai unggulan utama dan juga menduduki peringkat atas FIFA, sehingga ekspektasi tinggi mengiringi laga semifinal.

Inggris vs Argentina: Rivalitas Panjang

Pertemuan antara Inggris dan Argentina selalu bernuansa tegang, dipengaruhi oleh sejarah di luar lapangan seperti konflik Kepulauan Falkland (Malvinas) pada 1982. Di lapangan, serangkaian insiden dan momen kontroversial memperkaya rivalitas tersebut.

  • 1966: Kapten Argentina, Antonio Rattin, dikartu merah dalam laga perempat final yang sengit. Setelah laga, manajer Inggris, Alf Ramsey, bahkan melarang pemainnya bertukar jersey dengan pemain Argentina.
  • 1986: Diego Maradona mencetak gol ikonik “Tangan Tuhan” yang menyingkirkan Inggris di perempat final.
  • 1998: David Beckham mendapat kartu merah akibat menendang gelandang Argentina, Diego Simeone. Inggris akhirnya kalah lewat adu penalti.
  • 2002: Beckham membalas dendam lewat gol penalti tunggal yang membuat Argentina tersingkir di fase grup.

Selain beban historis, pertemuan ini juga menuai perhatian karena kualitas pemain dari kedua kubu yang masih tajam di turnamen ini.

Prancis vs Spanyol: Misi Balas Dendam

Dua raksasa Eropa itu kembali bertemu di semifinal mayor hanya dua tahun setelah perjumpaan di Euro, di mana Spanyol menang 2-1 berkat gol Lamine Yamal yang masih berusia 16 tahun dan kemudian keluar sebagai juara Eropa.

Kondisi kini berubah. Prancis datang dengan kekuatan penuh dan lini serang yang dipimpin Kylian Mbappé, sementara Spanyol harus menghadapi kendala cedera pada beberapa pemain kunci seperti Yamal dan Nico Williams.

Spanyol sejauh ini kerap mengandalkan gol-gol telat dari pemain pengganti seperti Mikel Merino untuk melewati hadangan Portugal dan Belgia, sedangkan Prancis bertekad menuntaskan misi balas dendam pada momen yang bertepatan dengan hari nasional Prancis (Bastille Day).

Persaingan Sepatu Emas dan Rekor Individu

Perburuan gelar top skor (Golden Boot) berjalan sengit. Kylian Mbappé dan Lionel Messi memimpin bursa dengan masing-masing delapan gol, disusul Jude Bellingham dan Harry Kane yang mencatat enam gol.

Selain itu, Messi (21 gol) dan Mbappé (20 gol) juga bersaing untuk memecahkan rekor pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah putaran final Piala Dunia.

Bagi Lionel Messi, yang kini berusia 39 tahun, laga semifinal melawan Inggris akan menjadi pertemuan pertamanya melawan tim itu sepanjang kariernya. Jika Argentina mampu mempertahankan gelar, Messi akan melampaui pencapaian Diego Maradona dengan koleksi dua trofi Piala Dunia, sekaligus membawa Argentina menyamai rekor Brasil (pada 1958 dan 1962) sebagai tim yang mampu juara berturut-turut.

Makna Hadirnya Keempat Juara di Semifinal

Kehadiran Argentina, Spanyol, Prancis, dan Inggris di babak empat besar menegaskan dominasi kekuatan tradisional dalam peta sepak bola dunia saat ini. Setelah beberapa edisi Piala Dunia diwarnai kejutan dari tim-tim non-unggulan (underdog), edisi kali ini kembali menjadi panggung bagi negara-negara dengan kompetisi domestik kuat dan pembinaan usia muda terstruktur.

Pertandingan semifinal juga mempertemukan pemain-pemain veteran yang tengah menutup babak gemilang karier mereka—seperti Lionel Messi dan Harry Kane—dengan talenta muda yang eksplosif, misalnya Kylian Mbappé dan Jude Bellingham.

Konvergensi kelompok elit ini tidak hanya menjanjikan pertarungan taktik dari pelatih-pelatih kelas dunia, tetapi juga menegaskan bahwa hegemoni sepak bola global saat ini masih dikuasai poros Eropa Barat dan Amerika Selatan.

[#pagebreak#]