Detak.Media — Fenomena langit tahunan Hujan Meteor Eta Aquarids kembali melintasi langit Indonesia pada awal Mei 2026. Hujan meteor ini diperkirakan mencapai puncak aktivitas pada malam 5 Mei hingga dini hari 6 Mei 2026, dengan peluang kemunculan meteor yang relatif tinggi di langit timur menjelang fajar.
Eta Aquarids dikenal sebagai salah satu hujan meteor terbaik yang bisa diamati dari wilayah khatulistiwa hingga belahan Bumi selatan, termasuk Indonesia. Fenomena ini berasal dari serpihan debu komet legendaris Komet Halley yang tertinggal di orbit Bumi.
Secara periode, aktivitas Eta Aquarids berlangsung cukup panjang, yakni 19 April hingga 28 Mei 2026. Namun, fase paling intens diperkirakan terjadi pada 5–7 Mei 2026.
Waktu Terbaik Pengamatan di Indonesia
Bagi pengamat di Indonesia, waktu paling ideal untuk menyaksikan hujan meteor ini adalah pada pukul 02.00 WIB hingga menjelang fajar. Pada rentang waktu tersebut, titik radian—asal tampak meteor—di rasi bintang Aquarius sudah berada cukup tinggi di langit timur.
Dalam kondisi langit gelap dan cerah, pengamat berpeluang melihat sekitar 10 hingga 30 meteor per jam saat puncak. Angka ini bisa lebih tinggi di lokasi yang sangat minim polusi cahaya.
Pengamatan tahun ini menghadapi sedikit tantangan. Malam puncak 5–6 Mei 2026 bertepatan dengan fase bulan waning gibbous dengan tingkat kecerahan sekitar 84 persen. Cahaya bulan yang cukup terang berpotensi mengurangi visibilitas meteor-meteor redup.
Meski demikian, Eta Aquarids terkenal menghasilkan meteor terang atau fireball yang tetap terlihat jelas meski langit tidak sepenuhnya gelap.
Eta Aquarids termasuk hujan meteor berkecepatan tinggi. Meteor-meteornya melesat memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik. Kecepatan ini membuat meteor sering meninggalkan jejak cahaya panjang yang bertahan beberapa detik di langit.
Debu-debu ini merupakan sisa lintasan Komet Halley, yang terakhir kali terlihat dari Bumi pada 1986 dan diperkirakan kembali mendekat pada tahun 2061.
Persiapan Sebelum Mengamati
Agar pengamatan maksimal, beberapa hal berikut perlu diperhatikan:
- Cari lokasi minim polusi cahaya
Jauhi lampu kota, jalan raya, dan gedung tinggi. Area perbukitan, pantai, atau pedesaan menjadi lokasi ideal. - Tidak perlu teleskop atau binokular
Hujan meteor paling efektif diamati dengan mata telanjang karena lintasannya luas dan cepat. - Pantau prakiraan cuaca
Langit cerah tanpa awan menjadi syarat utama keberhasilan pengamatan.
Cara Mengamati dengan Optimal
- Biarkan mata beradaptasi dengan gelap selama 20–30 menit
Hindari cahaya ponsel agar mata lebih sensitif terhadap cahaya redup. - Ambil posisi nyaman
Berbaring telentang dengan kaki mengarah ke timur memudahkan pengamatan jangka panjang. - Fokus ke langit luas, bukan hanya titik radian
Meteor bisa muncul dari berbagai arah, tidak hanya dari Aquarius.
Jika membutuhkan penerangan, gunakan senter dengan cahaya merah agar adaptasi mata tidak terganggu.
Dengan kondisi langit yang mendukung, Eta Aquarids 2026 menjadi momen langka untuk menyaksikan “bintang jatuh” berkecepatan tinggi langsung dari langit Indonesia tanpa alat bantu apa pun.
Ikuti Detak.Media
