Study Ungkap Semakin Banyak Konsumen Tinggalkan Mobil Listrik dan Kembali Memilih Mobil Bensin
Sebuah studi baru mengungkap tren mengejutkan di pasar otomotif global, di mana minat terhadap mobil listrik (EV) menunjukkan perlambatan signifikan. Sebaliknya, permintaan untuk kendaraan bermesin pembakaran internal (bensin) justru mengalami peningkatan. Pergeseran sentimen konsumen ini menandakan bahwa transisi industri otomotif menuju elektrifikasi mungkin menghadapi tantangan lebih besar dari yang diperkirakan.
Laporan dari firma layanan profesional EY yang kami kutip dari Carscoops, Sabtu (13/12) mengindikasikan bahwa adopsi EV secara global melambat. Hal ini sebagian disebabkan oleh perubahan kebijakan, seperti yang baru-baru ini diterapkan di Amerika Serikat.
Studi tersebut menemukan bahwa sekitar separuh konsumen yang berencana membeli kendaraan baru atau bekas dalam 24 bulan ke depan kini menyatakan niatnya untuk membeli kendaraan bermesin pembakaran. Angka ini melonjak 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menandai perubahan drastis dalam preferensi konsumen.
Kondisi serupa juga terlihat pada minat terhadap mobil hybrid. Minat terhadap model hybrid dilaporkan menurun 5 persen, kini berada di angka 16 persen. Lebih lanjut, dari konsumen yang masih mempertimbangkan untuk membeli EV, lebih dari sepertiga atau 36 persen menyatakan mereka sedang memikirkan kembali keputusan tersebut atau berencana menundanya. Perkembangan geopolitik disebut sebagai salah satu faktor utama.
Perubahan kebijakan di Amerika Serikat juga turut memengaruhi tren ini. Kurang dari setahun setelah masa jabatan kedua Presiden Trump dimulai, beberapa perubahan kebijakan yang lebih menguntungkan kendaraan bermesin pembakaran internal telah diimplementasikan. Kebijakan ini diperkirakan akan memengaruhi perilaku konsumen dan keluaran produsen di tahun-tahun mendatang.
Awal bulan ini, standar CAFE secara resmi dicabut, membuka peluang bagi produsen mobil untuk membangun lebih banyak model bermesin pembakaran. Pihak otomotif berargumen bahwa langkah ini sejalan dengan permintaan konsumen aktual, yang diklaim masih lebih memilih kendaraan konvensional dibandingkan versi listriknya.
Eropa pun mengalami kalibrasi serupa. Dua tahun lalu, Uni Eropa mengumumkan rencana untuk melarang penjualan kendaraan bermesin pembakaran baru pada tahun 2035. Namun, larangan ini kini tampaknya berpotensi dilonggarkan. Hal ini membuka kemungkinan bagi penjualan model hybrid dan mobil bermesin pembakaran yang menggunakan e-fuels untuk tetap dijual setelah tahun 2035, yang diprediksi akan berdampak signifikan pada penjualan EV di kawasan tersebut.