Mobil Listrik Selo, Inovasi Anak Bangsa yang Pernah Menggetarkan Dunia Otomotif

Indonesia sempat mencuri perhatian dunia otomotif lewat mobil Listrik Selo, mobil sport bertenaga listrik yang dirancang oleh insinyur Indonesia Ricky Elson bersama timnya. Proyek ini diklaim mampu menandingi mobil sport internasional sekaligus menjadi bukti kemampuan anak bangsa di bidang teknologi ramah lingkungan.

Pengembangan Selo berlangsung pada awal 2010-an dan segera menjadi sorotan media karena kombinasi desain futuristik dan performa. Nama Selo, yang berarti batu dalam bahasa Jawa, dipilih untuk menggambarkan kekuatan dan ketangguhan kendaraan tersebut.

Ricky Elson dikenal sebagai salah satu pelopor mobil listrik di Indonesia. Bersama timnya, ia menyusun proyek Selo dengan tujuan menghadirkan kendaraan listrik berperforma tinggi yang dapat menunjukkan kapabilitas riset dan rekayasa dalam negeri.

Eksterior Mobil Listrik Selo
Desain Mobil Listrik Selo yang Futuristik. Foto: Istimewa

Fokus tim meliputi desain aerodinamis, kenyamanan pengemudi, dan integrasi teknologi mobil listrik serta sistem baterai. Prototipe pertama tampil memukau publik karena estetika yang menyerupai mobil sport kelas dunia.

Selo menonjol pada aspek teknis yang jarang ditemui pada prototipe lokal kala itu. Tim pengembang mengutamakan jarak tempuh, efisiensi, dan keselamatan pada kecepatan tinggi.

Mengutip Espos Otomotif, Mobil Listrik Selo dibekali motor listrik bertenaga 130 kW (180 hp) yang mampu menghasilkan akselerasi cepat dan performa setara mobil sport kelas menengah. Kendaraan ini menggunakan baterai bertegangan 360V, memungkinkan jarak tempuh hingga 250 km dalam sekali pengisian penuh.

Kecepatan maksimal Selo mencapai 220 km/jam, dengan kemampuan akselerasi yang membuatnya menonjol dibanding mobil listrik prototipe lainnya di Indonesia pada masanya. Proses pengisian baterai dari 0% hingga 100% memerlukan waktu sekitar 4 jam, menjadikannya cukup praktis untuk penggunaan harian maupun uji coba performa.

Selain tenaga dan kecepatan, tim pengembang juga memperhatikan desain aerodinamika dan distribusi bobot agar Selo tetap stabil saat melaju di kecepatan tinggi. Semua elemen ini menunjukkan bahwa proyek Selo tidak hanya berfokus pada tampilan futuristik, tetapi juga pada kinerja dan efisiensi kendaraan listrik.

9 Mobil Listrik Buatan Indonesia: Dari Tucuxi Hingga Gelora E

Kendala Regulasi

Meski menjanjikan, Selo menghadapi hambatan teknis yang menghalangi produksi massal. Salah satu masalah utama adalah kecenderungan mobil listrik mengalami overheat saat melaju pada kecepatan tinggi, menimbulkan pertanyaan soal keamanan dan daya tahan.

Di samping kendala teknis, Selo juga berhadapan dengan regulasi. Prototipe tersebut tercatat tidak lolos uji emisi sesuai standar yang berlaku meski secara umum lebih ramah lingkungan dibanding kendaraan berbahan bakar fosil. Kombinasi isu teknis dan regulasi menjadi penyebab proyek tertahan sebelum mencapai tahap produksi massal.

Warisan dan Relevansi

Walau tidak pernah diproduksi massal, Selo meninggalkan warisan penting bagi industri otomotif nasional. Proyek ini berfungsi sebagai laboratorium inovasi, memberi pengalaman teknis bagi para insinyur dan pengembang otomotif di Indonesia.

Pengalaman dari pengembangan Selo—mulai desain, motor, baterai, hingga pengujian regulasi—menjadi rujukan bagi generasi berikutnya dalam merancang mobil listrik lokal. Dengan kemajuan teknologi baterai dan dukungan kebijakan, kemungkinan munculnya mobil listrik buatan Indonesia tetap terbuka.

5 Proyek Mobil Nasional Indonesia yang Harus Kamu Tahu, dari Timor hingga Maung Pindad

Pada konteks kebijakan, Presiden Prabowo Subianto menegaskan rencana mobil buatan Indonesia dalam Sidang Kabinet Paripurna pada 20 Oktober 2025. Dia menyatakan, “Belum merupakan prestasi tapi sudah kita mulai rintis, kita akan punya mobil buatan Indonesia dalam 3 tahun yang akan datang.” Menurut pernyataan itu, pendanaan dan lokasi pabrik sudah disiapkan serta sedang dilakukan persiapan produksi kendaraan nasional.

Rencana pemerintah ini menunjukkan komitmen menuju kemandirian industri otomotif, yang diharapkan mencakup pembangunan kapasitas teknologi, manufaktur, dan rantai pasok dalam negeri.