Tak Ingin Bernasib Sama, Van Basty Sousa Ogah Komentari Wasit Jelang Hadapi Bhayangkara FC
Gelandang bertahan Persija Jakarta, Van Basty Sousa, memilih untuk tidak mengeluarkan pernyataan terkait kinerja wasit menjelang laga tunda pekan kedelapan BRI Super League 2025/2026 melawan Bhayangkara FC. Sikap hati-hati pemain asal Brasil ini muncul di tengah bayang-bayang sanksi berat Komite Disiplin atau Komdis PSSI yang baru saja menimpa rekan setimnya, Ryo Matsumura. Pertandingan krusial ini dijadwalkan berlangsung hari ini, Senin, 29 Desember 2025, pukul 19.00 WIB, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Keputusan Sousa untuk menahan diri dari komentar kontroversial mengenai perangkat pertandingan mencerminkan kehati-hatian yang meningkat di kalangan skuad Macan Kemayoran. Hal ini tidak terlepas dari sanksi yang dijatuhkan Komdis PSSI kepada Ryo Matsumura pada 28 Desember 2025, yang dinilai melakukan gestur tidak sportif kepada wasit Steven Yubel Poli saat Persija kalah 0-1 dari Semen Padang pekan lalu. Insiden tersebut menjadi pengingat tegas akan konsekuensi kritik terhadap wasit.
Sanksi Berat Ryo Matsumura Jadi Pelajaran
Komdis PSSI telah menjatuhkan hukuman larangan bermain sebanyak empat pertandingan dan denda sebesar Rp50 juta kepada Ryo Matsumura. Sanksi ini diberikan setelah Matsumura diduga melakukan gestur negatif yang mengindikasikan adanya dugaan suap kepada wasit dalam pertandingan kontra Semen Padang pada 22 Desember 2025. Dalam laga tersebut, Persija harus bermain dengan sembilan pemain setelah Figo Dennis dan Fabio Calonego diganjar kartu merah, dan gol Emaxwell Souza di akhir babak kedua dianulir karena dianggap terjadi pelanggaran.
Manajer Persija Jakarta, Ardhi Tjahjoko, membenarkan adanya sanksi tersebut namun enggan memberikan detail lebih lanjut, menyerahkan rilis resmi kepada Komdis PSSI. Hukuman ini secara signifikan merugikan Persija yang akan kehilangan Matsumura dalam beberapa pertandingan penting ke depan. Sebelumnya, pemain Persija lainnya, Allano Lima, juga menghadapi ancaman sanksi setelah meluapkan kekecewaannya terhadap wasit di media sosial pasca golnya dianulir.
Ketatnya aturan Komdis PSSI terkait kritik terhadap wasit bukan kali pertama terjadi. Pada Mei 2018, tiga pemain Persija, Ismed Sofyan, Riko Simanjuntak, dan Ramdani Lestaluhu, juga pernah didenda masing-masing Rp25 juta karena melontarkan kata-kata tidak pantas kepada wasit dalam laga melawan Persela Lamongan. Pola sanksi ini menunjukkan konsistensi Komdis PSSI dalam menjaga integritas pertandingan dari komentar negatif pemain maupun ofisial.
Fokus Penuh Van Basty Sousa untuk Kemenangan
Van Basty Sousa, yang baru bergabung dengan Persija Jakarta pada 1 Juli 2025 sebagai gelandang bertahan, memahami betul pentingnya fokus pada pertandingan. Ia didatangkan untuk memperkuat lini tengah Macan Kemayoran di BRI Super League 2025/2026 dan telah menunjukkan adaptasi yang cepat dengan tim. Dalam konferensi pers jelang laga kontra Bhayangkara FC, Sousa lebih memilih untuk menyoroti persiapan tim dan ambisinya meraih tiga poin di kandang sendiri.
Pemain kelahiran Brasil ini sebelumnya absen dalam laga kontra Semen Padang karena akumulasi kartu kuning, sehingga ia sangat berambisi untuk kembali merumput dan memberikan kontribusi maksimal. “Persiapan yang kami lakukan berjalan dengan baik. Kami berharap bisa tampil luar biasa di hadapan Jakmania. Bermain di kandang sangat penting bagi kami.
Target kami jelas, meraih hasil maksimal serta mengamankan tiga poin,” ujar Sousa. Pernyataan ini menegaskan komitmennya untuk fokus pada performa di lapangan, menjauhkan diri dari potensi kontroversi di luar teknis permainan.
Sikap profesionalisme Van Basty Sousa ini sejalan dengan upaya PSSI untuk menjaga iklim kompetisi yang sehat dan menjunjung tinggi keputusan wasit. Dengan adanya preseden sanksi yang jelas dan mutakhir, para pemain diharapkan dapat lebih berhati-hati dalam menyampaikan kritik atau ketidakpuasan terhadap kinerja wasit, terutama di ruang publik atau media sosial.
Implikasi Aturan Komdis PSSI bagi BRI Super League
Regulasi Komdis PSSI yang tegas terhadap kritik wasit memiliki tujuan untuk melindungi perangkat pertandingan dari tekanan dan menjaga objektivitas kepemimpinan di lapangan. Meskipun terkadang menimbulkan pro dan kontra, aturan ini diharapkan dapat meminimalisir insiden-insiden yang dapat merusak citra sepak bola nasional. Penerapan sanksi yang konsisten, seperti yang dialami Matsumura, menunjukkan keseriusan PSSI dalam menegakkan disiplin.
Bagi klub seperti Persija, sanksi terhadap pemain kunci seperti Ryo Matsumura tentu menjadi kerugian besar. Hal ini mendorong klub untuk lebih gencar mengedukasi para pemainnya mengenai batasan-batasan dalam berekspresi, terutama terkait keputusan wasit. Kedewasaan pemain dalam menyikapi hasil pertandingan dan keputusan wasit menjadi krusial, tidak hanya untuk karir pribadi tetapi juga untuk stabilitas tim secara keseluruhan.
Laga Persija Jakarta menghadapi Bhayangkara FC malam ini tidak hanya menjadi ajang perebutan poin penting di Super League, tetapi juga menjadi ujian bagi para pemain untuk menjaga fokus dan emosi di tengah tekanan kompetisi. Dengan Van Basty Sousa yang memilih bungkam soal wasit, harapannya adalah pertandingan dapat berjalan lancar tanpa diwarnai kontroversi di luar lapangan, menjunjung tinggi semangat sportivitas yang diharapkan dari BRI Super League.