Jangan Senang Dulu! Meski Menang Lawan Arema FC, Ini PR Besar yang Masih Menghantui Bali United

Bali United berhasil mengamankan tiga poin penting setelah menaklukkan Arema FC dengan skor tipis 1-0 dalam laga pekan ke-16 Super League 2025-2026. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, pada Minggu (4/1/2026) malam WIB tersebut, dimenangkan Serdadu Tridatu berkat gol tunggal I Kadek Agung Widnyana pada menit ke-49.

Kendati meraih kemenangan, hasil ini tidak serta-merta membuat pelatih kepala Bali United, Johnny Jansen, merasa puas sepenuhnya. Juru taktik asal Belanda itu menyoroti pekerjaan rumah (PR) besar yang masih menghantui timnya, terutama terkait efektivitas penyelesaian akhir dan sistem rekrutmen pemain yang dinilainya belum ideal.

Sorotan Tajam pada Lini Serang

Jansen secara eksplisit mengungkapkan kekecewaannya terhadap banyaknya peluang yang tercipta namun gagal dikonversi menjadi gol. Hal ini menjadi masalah berulang yang juga terlihat pada pertandingan sebelumnya, saat Bali United ditahan imbang 0-0 oleh Dewa United pada 29 Desember 2025.

Dalam konferensi pers sebelum laga kontra Arema, Jansen menegaskan bahwa evaluasi mendalam telah dilakukan terhadap performa tim yang kerap menyia-nyiakan peluang di depan gawang lawan. “Banyak peluang yang kami miliki meski belum mencetak gol. Babak kedua tidak sebagus babak pertama, tapi kami percaya dan berharap besok menang melawan Arema,” ujar Jansen, Sabtu (3/1/2026). Harapan itu terwujud dengan kemenangan, namun skor tipis 1-0 mengindikasikan bahwa masalah ketajaman lini depan belum sepenuhnya teratasi.

Asisten pelatih Bali United, Kleberson dos Santos, juga pernah menyatakan kekesalan serupa setelah timnya dikalahkan Arema FC pada Februari 2025, menyebutkan bahwa tim memiliki banyak kesempatan mencetak gol tetapi penyelesaiannya kurang baik. Konsistensi dalam mengonversi peluang menjadi gol adalah aspek krusial yang harus segera dibenahi oleh Serdadu Tridatu jika ingin bersaing lebih jauh di papan atas klasemen.

Frustrasi Sistem Rekrutmen Pemain

Di luar masalah teknis di lapangan, Jansen juga secara terbuka mengungkapkan keheranannya terhadap sistem belanja pemain di Indonesia. Pada 2 Januari 2026, ia menyatakan bahwa klub-klub di Indonesia, termasuk Bali United, tidak memiliki pencari bakat (scout) yang memadai.

Menurut Jansen, pemilik klub seringkali menyodorkan pemain berdasarkan masukan agen, yang terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan atau posisi yang diinginkan pelatih. “Terkadang kami mencari striker, dan kemudian pemilik kami yang sangat kaya muncul dengan pemain sayap kiri setinggi 1,65 meter. Dia sama sekali tidak bisa bermain sebagai striker,” ungkap Jansen. Situasi ini tentu mempersulit upaya pelatih untuk membangun skuad yang seimbang dan sesuai dengan filosofi permainan yang ingin diterapkan.

Transisi Gaya Bermain dan Konsistensi Tim

Sejak awal musim 2025-2026, Bali United memang sedang dalam proses adaptasi gaya bermain baru di bawah arahan Johnny Jansen. Pelatih berusia 50 tahun itu berambisi membangun tim yang lebih dominan dalam penguasaan bola dan bermain sepak bola menyerang.

Namun, transisi ini belum berjalan mulus. Pada Agustus 2025, Jansen mengakui bahwa timnya masih sering kehilangan penguasaan bola di momen-momen penting, yang berujung pada serangan balik berbahaya dari lawan. Meskipun telah ada perbaikan, terlihat dari empat laga beruntun tanpa kebobolan sebelum laga Dewa United, inkonsistensi performa masih menjadi tantangan. Bali United mengawali musim dengan sulit, hanya mengumpulkan dua poin dari tiga pertandingan awal dan kebobolan sembilan gol.

Kemenangan atas Arema FC menempatkan Bali United di posisi kedelapan klasemen Super League 2025-2026 dengan 24 poin dari 16 pertandingan. Namun, dengan ketatnya persaingan di papan tengah, setiap pertandingan menjadi krusial. Perbaikan dalam efektivitas serangan dan penataan ulang sistem rekrutmen pemain akan menjadi kunci bagi Bali United untuk mencapai target yang lebih tinggi di sisa musim ini.