Final Piala Super Spanyol 2026 Panas, Mbappe Larang Pemain Madrid Beri Guard of Honour ke Barcelona

Final Piala Super Spanyol 2026 antara Real Madrid dan Barcelona menyajikan drama tidak hanya selama 90 menit pertandingan, tetapi juga setelah laga usai. Kekalahan tipis 2-3 dari Barcelona membuat Real Madrid gagal membuka tahun 2026 dengan trofi, sekaligus memunculkan kontroversi terkait sikap para pemain Los Blancos di akhir pertandingan.

Barcelona keluar sebagai pemenang dalam duel El Clasico yang berlangsung ketat. Dua gol Raphinha menjadi pembeda, memastikan Blaugrana mengangkat trofi Piala Super Spanyol. Namun, alih-alih ditutup dengan momen sportivitas, pertandingan ini justru diwarnai keputusan Real Madrid yang enggan memberikan guard of honour kepada sang rival.

Keputusan tersebut langsung menyedot perhatian publik, terutama karena dikaitkan dengan peran Kylian Mbappe. Bintang anyar Madrid itu disebut memiliki pengaruh besar dalam sikap timnya selepas peluit panjang dibunyikan.

Mbappe Diduga Jadi Penggerak Keputusan Madrid

Menurut laporan media Spanyol, Kylian Mbappe terlihat aktif mengarahkan rekan-rekannya untuk meninggalkan lapangan tanpa memberikan penghormatan kepada Barcelona. Meski hanya tampil sebagai pemain pengganti di menit-menit akhir, Mbappe justru menjadi figur paling mencolok setelah pertandingan.

Sikap penyerang asal Prancis tersebut dinilai mencerminkan mental kompetitif yang kuat. Namun, di sisi lain, langkah itu juga memantik perdebatan soal etika dan sportivitas dalam rivalitas klasik seperti El Clasico.

Menariknya, sikap para pemain Madrid berbeda dengan pendekatan manajemen klub. Presiden Real Madrid, Florentino Perez, tetap menunjukkan gestur profesional dengan memberikan selamat kepada para pemain Barcelona secara langsung saat seremoni penyerahan trofi.

Jalannya Laga: Adu Taktik dan Mental

Di atas lapangan, pertandingan berjalan sesuai ekspektasi sebagai laga puncak. Barcelona tampil agresif sejak awal dan membuka keunggulan lewat Raphinha pada menit ke-36 setelah menerima umpan matang dari Fermin Lopez.

Real Madrid merespons dengan cepat. Vinicius Junior mencetak gol penyeimbang di menit 45+2, memanfaatkan celah di lini belakang Barcelona. Namun, keunggulan mental Madrid kembali diuji hanya dua menit berselang.

Robert Lewandowski membawa Barcelona unggul kembali lewat penyelesaian klinis yang memanfaatkan kreativitas Pedri. Drama babak pertama ditutup dengan gol Gonzalo Garcia di menit 45+6, membuat skor imbang 2-2 saat turun minum.

Gol Penentu dan Tekanan Akhir

Babak kedua berjalan lebih berhati-hati, dengan kedua tim saling menunggu celah. Barcelona akhirnya menemukan momen krusial pada menit ke-73. Raphinha kembali mencetak gol dan mengukuhkan dirinya sebagai pahlawan kemenangan Blaugrana.

Setelah gol tersebut, Real Madrid meningkatkan intensitas serangan. Masuknya Mbappe di menit akhir diharapkan memberi dorongan tambahan, namun rapatnya pertahanan Barcelona membuat peluang Madrid sulit berkembang.

Situasi sempat menguntungkan Madrid ketika Frenkie de Jong menerima kartu merah pada menit ke-91. Meski bermain dengan sepuluh orang, Barcelona mampu menjaga disiplin dan mempertahankan keunggulan hingga laga berakhir.

Rivalitas Panas yang Tak Pernah Padam

Kemenangan ini menjadi trofi pertama Barcelona di tahun 2026 dan mempertegas dominasi mereka atas Real Madrid dalam laga final. Namun, cerita utama justru bergeser pada sikap Madrid yang memilih tidak memberikan guard of honour.

Bagi sebagian penggemar, tindakan tersebut dianggap wajar dalam rivalitas sengit dua raksasa Spanyol. Namun, tidak sedikit pula yang menilai keputusan itu mencoreng nilai sportivitas sepak bola.

Kylian Mbappe pun berada di pusat perdebatan. Sebagian melihatnya sebagai simbol mental juara Madrid, sementara lainnya menilai sikapnya terlalu emosional dalam menerima kekalahan. Apa pun sudut pandangnya, final Piala Super Spanyol 2026 kembali membuktikan bahwa El Clasico selalu menyisakan cerita panjang, bahkan setelah pertandingan selesai.