Dominik Szoboszlai Mulai Tersisih, Imbas dari Proyek Galactico Arne Slot di Liverpool
Liverpool yang sempat begitu perkasa di bawah Arne Slot musim lalu kini justru terpuruk dalam krisis performa. Dari tim juara Liga Inggris, The Reds berubah menjadi skuad yang kehilangan arah dan keseimbangan permainan.
Di tengah kekacauan itu, nama Dominik Szoboszlai muncul sebagai simbol perubahan drastis dari pilar utama musim lalu menjadi korban eksperimen taktik yang membingungkan. Gelandang asal Hungaria itu sebelumnya dikenal sebagai motor serangan Liverpool dengan kontribusi besar dalam tekanan tinggi dan transisi cepat.
Namun, musim ini, posisinya terus berganti dari gelandang serang, penyerang bayangan, hingga bek kanan. Pergeseran tanpa arah inilah yang mencerminkan kebingungan taktik Slot, yang kini menuai kritik tajam setelah Liverpool menelan empat kekalahan beruntun di semua kompetisi.
Dari Pilar Juara Jadi Simbol Kekacauan
Pada musim lalu, Szoboszlai menjadi kunci sukses Liverpool. Ia tampil dalam 36 dari 38 laga liga, absen hanya karena skorsing dan cedera ringan. Posisi utamanya adalah gelandang serang di depan Ryan Gravenberch dan Alexis Mac Allister. Perannya sangat vital dalam menekan lawan dan menciptakan peluang dari lini kedua.
Eksperimen Slot di laga melawan Manchester City Februari lalu bahkan sempat menuai pujian. Ia menempatkan Szoboszlai sebagai double false nine bersama Curtis Jones hasilnya, satu gol dan satu assist dari Szoboszlai untuk kemenangan 2-0.
Namun, setelah Liverpool memastikan gelar juara, peran Szoboszlai mulai berubah drastis. Ia dipaksa menyesuaikan diri demi memberi ruang bagi pemain baru seperti Florian Wirtz.
Digeser ke Bek Kanan, Awalnya Sukses
Awal musim ini, Szoboszlai sempat dimainkan di posisi bek kanan selama tiga pertandingan berturut-turut. Anehnya, ia justru tampil impresif di peran tersebut.
Ia menciptakan dummy brilian untuk gol Rio Ngumoha saat menghadapi Newcastle, lalu menorehkan tendangan bebas spektakuler yang menundukkan Arsenal 1-0 di Anfield laga yang dikenal dengan ejekan “mari tertawa pada Arsenal.”
Namun, setelah itu, performa Liverpool justru menurun tajam. Sejak kemenangan atas Arsenal, The Reds mengalami empat kekalahan beruntun di semua kompetisi. Ironisnya, penurunan itu dimulai ketika Szoboszlai kembali ke posisi naturalnya di tengah.
Taktik Slot Mulai Dipertanyakan
Dalam kekalahan melawan Atletico Madrid dan Galatasaray di Liga Champions, Szoboszlai kembali ditempatkan sebagai gelandang, sebelum digeser lagi ke bek kanan dalam dua kekalahan terbaru di Liga Inggris melawan Chelsea dan Manchester United.
Dalam laga kontra MU, ia memulai pertandingan sebagai playmaker, lalu diturunkan ke posisi bek kanan ketika Florian Wirtz masuk menggantikan Conor Bradley. Hal itu menunjukkan Slot masih belum menemukan formasi yang stabil.
Keputusan taktis Slot semakin disorot karena terlihat tidak konsisten. Dalam laga melawan MU, alih-alih menjaga keseimbangan tim, ia menurunkan pemain berdasarkan harga transfer. Alexander Isak tetap dimainkan meski tampil buruk, sementara Hugo Ekitike yang baru pulih dari skorsing — justru dimainkan bersamaan dengan Isak, memaksa Wirtz mundur lebih dalam.
Ketidakseimbangan dan Dampaknya
Statistik Szoboszlai sejatinya masih impresif: 16 gol dan 16 assist dari 105 pertandingan. Namun, absennya pemain seperti Luis Diaz dan Diogo Jota membuat kehilangan Szoboszlai dari lini tengah terasa sangat signifikan.
Liverpool kehilangan keseimbangan antara serangan dan pertahanan. Mohamed Salah kesulitan menembus pertahanan lawan tanpa dukungan dari lini kedua, sementara transisi pertahanan menjadi rapuh tanpa pressing ketat Szoboszlai.
Virgil van Dijk dan Ibrahima Konate tampil di bawah performa, dan Milos Kerkez di sisi kiri kerap kalah duel. Tanpa kestabilan di lini tengah, tekanan terhadap lini belakang semakin berat terutama dengan absennya Alisson karena cedera.
Ketika Slot Kehilangan Arah
Arne Slot kini dinilai gagal menjaga identitas permainan Liverpool yang dikenal solid, efisien, dan disiplin secara taktik. Alih-alih memperbaiki sistem, ia terlihat lebih sering menumpuk pemain bintang di lapangan, berharap reputasi mampu menutupi kelemahan struktur permainan.
Pendekatan itu mengingatkan publik pada era gelap Manchester United pasca Ferguson, ketika nama besar lebih diprioritaskan ketimbang keseimbangan tim.
Szoboszlai, yang musim lalu menjadi contoh etos kerja dan disiplin taktik, kini justru menjadi korban utama kebingungan strategi pelatih. Jika situasi ini tak segera dibenahi, bukan mustahil Liverpool akan kembali terperosok lebih dalam di musim yang seharusnya menjadi kelanjutan era kejayaan.