Detak.Media — Barcelona secara resmi mengajukan protes kedua kepada UEFA terkait kinerja perwasitan selama pertandingan perempat final Liga Champions melawan Atletico Madrid. Klub Catalan tersebut menilai sejumlah keputusan wasit di kedua leg pertandingan telah merugikan tim secara signifikan, baik dari segi sportif maupun finansial.
Protes ini merupakan tindak lanjut dari ketidakpuasan Barcelona terhadap keputusan-keputusan yang diambil oleh wasit Istvan Kovacs di leg pertama dan Clément Turpin di leg kedua. Sebelumnya, UEFA telah menolak protes pertama yang diajukan Barcelona terkait insiden di leg pertama, dengan menyatakan protes tersebut tidak dapat diterima (inadmissible).
Kontroversi di Kedua Laga
Dalam pengajuan protes kedua yang dirilis pada 16 April 2026, Barcelona merinci beberapa keputusan yang mereka anggap keliru dan melanggar peraturan permainan. Klub menyatakan bahwa akumulasi dari berbagai kesalahan ini berdampak langsung pada jalannya pertandingan dan hasil akhir, yang berujung pada kerugian besar bagi klub. Barcelona juga menegaskan kesiapannya untuk bekerja sama dengan UEFA demi meningkatkan sistem perwasitan agar lebih ketat, adil, dan transparan.
Salah satu poin utama protes Barcelona berkaitan dengan insiden di leg pertama pada 8 April 2026. Klub menyoroti dugaan handball oleh bek Atletico Madrid, Marc Pubill, di dalam kotak penalti setelah menerima bola dari kiper Juan Musso.
Barcelona berargumen bahwa insiden tersebut seharusnya berujung pada penalti dan kartu kuning kedua bagi Pubill, namun wasit Istvan Kovacs memutuskan untuk melanjutkan permainan, dan tim VAR tidak melakukan intervensi. Protes awal Barcelona terkait hal ini diajukan pada Kamis, namun ditolak oleh Badan Kontrol, Etika, dan Disiplin UEFA pada 13 April 2026.
Kontroversi berlanjut di leg kedua yang dimainkan pada 15 April 2026. Barcelona kembali memprotes keputusan wasit Clément Turpin, termasuk kartu merah yang diberikan kepada pemain mereka, Eric Garcia. Klub menilai Garcia bukanlah pemain terakhir yang bertahan saat insiden tersebut terjadi, dan seharusnya hanya berbuah kartu kuning. Selain itu, Barcelona juga menyoroti potensi pelanggaran yang tidak dianggap penalti terhadap Dani Olmo, serta klaim gol yang dianulir terhadap Ferran Torres.
Kekecewaan Pemain dan Pelatih
Ketidakpuasan terhadap kepemimpinan wasit juga diungkapkan oleh para pemain Barcelona. Penyerang Raphinha, yang absen karena cedera, menyatakan kekecewaannya dengan keras. “Rasanya seperti perampokan bagi saya. Ini bukan hanya tentang pertandingan ini hal yang sama terjadi di pertandingan sebelumnya. Wasit benar-benar mengerikan,” ujar Raphinha, dilansir dari BBC.
Ia juga mempertanyakan mengapa Atletico Madrid tidak menerima kartu kuning sama sekali di leg kedua, sementara Barcelona mendapatkan satu kartu kuning dan satu kartu merah. “Saya benar-benar ingin mengerti mengapa mereka begitu takut Barcelona memenangkan pertandingan,” tambahnya.
Pelatih Barcelona, Hansi Flick, juga sempat melontarkan kritik terhadap keputusan wasit setelah leg pertama. Ia menyatakan kebingungan mengapa VAR tidak melakukan intervensi pada insiden handball yang melibatkan Marc Pubill. Flick juga merasa timnya pantas melaju ke semifinal berdasarkan performa di kedua leg pertandingan.
Tanggapan UEFA dan Konteks Lebih Luas
Hingga kini, UEFA belum memberikan tanggapan resmi mengenai protes kedua yang diajukan Barcelona. Sebelumnya, UEFA telah menyatakan bahwa protes pertama mereka dianggap tidak dapat diterima, mengindikasikan bahwa badan sepak bola Eropa tersebut cenderung berpegang pada keputusan wasit di lapangan, kecuali ada bukti pelanggaran yang sangat jelas dan signifikan.
Insiden ini terjadi di tengah sorotan tajam terhadap kinerja perwasitan di Liga Champions musim 2025-2026. Beberapa pertandingan perempat final lainnya juga diwarnai kontroversi, termasuk laga antara Bayern Munich dan Real Madrid, di mana tim Madrid juga melayangkan keluhan terkait keputusan wasit. Namun, berbeda dengan Barcelona yang secara aktif mengajukan protes, Real Madrid dilaporkan belum mengajukan keluhan resmi kepada UEFA.
Barcelona harus menerima kekalahan agregat 2-3 dari Atletico Madrid di perempat final Liga Champions, yang berarti mereka gagal melaju ke semifinal. Kegagalan ini menambah daftar kekecewaan bagi klub Catalan tersebut setelah sebelumnya juga tersingkir dari Copa del Rey oleh tim yang sama.






