Detak.Media — Pembalap Marc Marquez menegaskan dirinya belum berada di jalur perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026. Rider tim pabrikan Ducati Lenovo Team itu mengakui masalah konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah terbesar jelang seri GP Prancis di French Grand Prix MotoGP yang digelar di Circuit de la Sarthe, Kamis (7/5/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah rangkaian hasil awal musim yang belum stabil. Marquez memang sempat dua kali memenangi Sprint Race, namun hingga memasuki seri kelima ia belum sekalipun naik podium pada balapan utama (Sunday Race). Kegagalan finis di GP Spanyol di Circuito de Jerez-Ángel Nieto dua pekan lalu membuatnya tertinggal 44 poin dari pemuncak klasemen sementara.
“Jujur saja, sebelum bicara soal juara, kami harus memperbaiki beberapa hal. Saya punya kecepatan di momen tertentu dalam akhir pekan, tetapi saya tidak bisa konsisten. Tanpa itu, tidak masuk akal memikirkan gelar,” ujar Marquez.
Ia menambahkan bahwa saat ini dirinya belum memiliki ritme dan kecepatan yang cukup stabil untuk bertarung sepanjang musim. Situasi ini kontras dengan musim 2025, ketika konsistensi justru menjadi kekuatan utamanya.
Inkonsistensi Jadi Sorotan
Memasuki Le Mans, Marquez masih tertahan di posisi lima besar klasemen sementara. Sementara itu, papan atas diisi oleh Marco Bezzecchi dan Jorge Martín, serta tekanan dari kubu Aprilia Racing yang tampil kompetitif sejak awal musim.
Catatan kemenangan Sprint Race memang menunjukkan potensi, tetapi sistem poin MotoGP membuat hasil balapan utama jauh lebih menentukan. Di sinilah Marquez merasa tertinggal.
Fakta lain yang menarik perhatian adalah performa adiknya, Alex Marquez, yang mampu memaksimalkan potensi motor Ducati dengan meraih kemenangan di Jerez. Hasil tersebut secara tidak langsung mempertegas bahwa persoalan Marc bukan semata pada paket motor, melainkan adaptasi rasa (feeling) dan ritme balap.
Kendala Feeling Bagian Depan Motor
Marquez mengungkapkan bahwa ia masih kesulitan menemukan kepercayaan diri pada bagian depan Ducati Desmosedici GP26, terutama saat menikung ke kiri. Masalah ini berdampak langsung pada konsistensi waktu putaran dan kepercayaan diri saat menyerang di tikungan.
Ducati disebut akan membawa sejumlah pembaruan teknis di Le Mans untuk membantu memperbaiki karakter tersebut. Namun Marquez menekankan bahwa peningkatan teknis saja tidak cukup tanpa peningkatan adaptasi dirinya terhadap motor.
“Masalah utamanya adalah feeling. Ketika saya tidak sepenuhnya percaya pada bagian depan motor, sulit untuk memaksa di setiap lap,” jelasnya.
Fokus Realistis, Bukan Gelar
Sejak insiden di Jerez pada April lalu, Marquez memang sudah memberi sinyal bahwa target juara dunia 2026 belum realistis dalam situasi saat ini. Ia memilih fokus pada perbaikan bertahap dan menemukan kembali fondasi terpenting dalam balap: konsistensi.
Tanpa itu, ambisi meraih gelar juara dunia kedelapan di kelas premier masih harus ditunda. Bagi Marquez, musim ini bukan tentang kecepatan sesaat, melainkan tentang membangun kembali ritme yang bisa bertahan dari Jumat hingga Minggu di setiap seri.
Ikuti Detak.Media
