ZETA Division Jadi Sorotan di M7, Tim Papan Bawah yang Berhasil Curi Perhatian Fans MLBB Indonesia
Keseruan M7 World Championship sudah terasa sejak babak Wild Card. Selain persaingan ketat antar tim kuat, kehadiran perwakilan dari regional yang jarang terdengar justru menjadi daya tarik tersendiri. Salah satu regional tersebut adalah Jepang, yang akhirnya kembali menampilkan wakilnya di panggung MLBB internasional.
Dari Jepang, nama ZETA Division mencuat sebagai tim yang paling banyak dibicarakan. Meski hasil mereka belum memuaskan, keberadaan ZETA Division justru menciptakan warna berbeda di M7. Mereka menjadi simbol kembalinya Jepang ke ekosistem kompetitif MLBB, sekaligus underdog yang menarik simpati banyak penggemar, khususnya dari Indonesia.
Jejak Panjang Jepang di Scene MLBB
Jepang sebenarnya bukan wajah baru di kompetisi MLBB internasional. Pada era awal M Series, regional ini termasuk pionir yang ikut membentuk fondasi turnamen dunia. Tim 10s Gaming Frost pernah menjadi wakil utama Jepang dan tampil di M1 serta M2 World Championship.
Prestasi terbaik Jepang tercatat di M1, saat 10s Gaming Frost berhasil melaju hingga perempat final lower bracket sebelum langkah mereka dihentikan oleh TODAK. Namun, selepas M2, Jepang perlahan menghilang dari peta M Series.
Absennya Jepang bukan tanpa sebab. Moonton dilaporkan mengalihkan slot M Series ke regional lain seperti LATAM dan MENA. Di sisi lain, belum adanya kualifikasi resmi di Jepang membuat komunitas MLBB setempat bergerak secara mandiri, tanpa dukungan penuh dari publisher. Hal ini cukup disayangkan, mengingat Jepang dikenal sebagai negara dengan kultur gaming yang kuat, meski lebih didominasi genre gacha dan RPG.
Tantangan Popularitas MLBB di Jepang
Salah satu pemain ZETA Division, June1, pernah mengungkapkan bahwa MLBB sebenarnya belum dikenal luas di Jepang. Menurutnya, masalahnya bukan pada kualitas game, melainkan pada penyebaran dan eksposur yang belum maksimal.
Pernyataan tersebut mencerminkan tantangan besar yang dihadapi MLBB di Jepang. Berbeda dengan Asia Tenggara, di mana MLBB menjadi arus utama, di Jepang game ini masih berjuang mencari tempat di tengah persaingan pasar yang sangat kompetitif.
ZETA Division dan Harapan Baru Jepang
Situasi mulai berubah pada 2025, ketika Moonton membuka lebih banyak jalur kompetitif, termasuk kualifikasi MSC 2025. Jepang kembali diberi kesempatan melalui jalur Wild Card, dan ZETA Division muncul sebagai representasi terkuat.
ZETA Division dikenal dominan di turnamen regional Jepang dan cukup kompetitif di Asia Timur. Namun, kembalinya mereka ke level internasional bukan tanpa hambatan. Di MSC 2025, ZETA Division gagal melaju jauh dan hanya mencatat satu kemenangan di lower bracket grup.
Menjelang M7, mereka melakukan perombakan dengan mendatangkan pelatih asal Filipina, Ola. Kehadiran Ola, yang berpengalaman bersama Burn x Flash dan Team Occupy, diharapkan mampu meningkatkan kualitas permainan tim. Selain itu, ZETA Division juga merekrut mid laner hafu Katsu untuk membantu komunikasi dan adaptasi tim.
Masalah Utama: Pengalaman dan Mental
Dari sisi gameplay, peningkatan ZETA Division memang terlihat. Namun, di M7 World Championship, mereka tetap kesulitan bersaing dan finis di dasar klasemen grup A. Menurut Ola, masalah utama bukan hanya mekanik atau meta, melainkan pengalaman bertanding di level tertinggi.
Tekanan panggung internasional membuat para pemain tidak tampil selepas saat scrim. Banyak informasi yang harus diproses secara bersamaan, sehingga memengaruhi pengambilan keputusan di dalam game. Selain itu, mentalitas pemain Jepang yang cenderung santai juga menjadi tantangan tersendiri.
Ola menegaskan bahwa ia ingin para pemainnya menganggap setiap pertandingan sebagai kesempatan terakhir, agar mereka bisa tampil dengan urgensi dan fokus penuh. Hal ini sejalan dengan pandangan pelatih Boostgate Esports, Tezet, yang menilai ZETA Division kerap bermain tanpa beban karena berada di posisi underdog.
Underdog Favorit Penggemar Indonesia
Meski kerap kalah, ZETA Division justru mendapat banyak dukungan dari penggemar MLBB Indonesia. Salah satu faktor utamanya adalah sosok Katsu, mid laner dengan penampilan unik yang langsung menarik perhatian publik. Karisma Katsu membuat ZETA Division mudah diingat, bahkan ketika mereka harus menelan kekalahan.
Di luar performa pertandingan, ZETA Division juga membawa nilai penting bagi ekosistem MLBB. Sebagai organisasi esports besar di Jepang, kehadiran mereka membuka peluang berkembangnya MLBB di Asia Timur.
Proses menuju tim kuat memang panjang. Meski hasil di M7 belum sesuai harapan, ZETA Division menunjukkan tekad untuk terus berkembang. Dengan dukungan pelatih, komunitas, dan pengalaman yang terus bertambah, Jepang perlahan membangun kembali pijakan mereka di panggung MLBB dunia.