Detak.media — Presiden FIFA Gianni Infantino menyatakan badan sepak bola dunia akan membahas rencana memperluas peserta Piala Dunia pria menjadi 64 tim. Pembahasan dijadwalkan dimulai setelah penyelenggaraan Piala Dunia 2026 rampung.
Infantino mengatakan wacana itu bertujuan memberi peluang bagi seluruh negara untuk bermimpi tampil di panggung sepak bola terbesar. Ia menyebut penting agar turnamen benar-benar merepresentasikan seluruh dunia, bukan hanya wilayah tradisional seperti Eropa dan Amerika Selatan.
“Saat kamu jadi penyelenggara Piala Dunia, sangat penting agar turnamen tersebut untuk seluruh negara di dunia. Tidak hanya Eropa dan Amerika selatan, tetapi seluruh negara di dunia,” ujar Infantino dalam wawancara dengan stasiun penyiaran Swiss, Blue Sport, yang dikutip Senin (13/7/2026).
Ia melanjutkan, “Setiap negara harus dapat bermimpi berpartisipasi pada Piala Dunia.” Infantino menilai kenaikan kualitas sepak bola di berbagai wilayah membuat negara-negara kecil perlu diberi insentif agar terus berkembang.
“Kami akan mencoba merealisasikan isu ini setelah Piala Dunia 2026 selesai,” tambahnya.
Polemik dan Hambatan
Ide format 64 tim bukan hal baru. Gagasan muncul kembali setelah diskusi soal perluasan kuota sebelumnya, namun mendapat penolakan dari beberapa pemimpin konfederasi. Presiden Concacaf Victor Montagliani dan Presiden UEFA Aleksander Čeferin sempat menyatakan keberatan karena penambahan slot bisa memperbanyak jumlah pertandingan menjadi 128 laga dan menambah beban fisik pemain.
Debat internal di tubuh sepak bola dunia masih menjadi tantangan bagi wacana perubahan format ini.
Peluang Untuk Indonesia
Jika FIFA menyetujui format 64 tim, peluang Timnas Indonesia ke putaran final secara matematis akan meningkat. Saat kuota Piala Dunia bertambah dari 32 menjadi 48 untuk edisi 2026, jatah Asia (AFC) naik dari 4,5 menjadi 8,5 slot. Perpanjangan ke 64 tim diyakini akan menambah lagi alokasi untuk benua Asia dan bisa mencapai sekitar 11–12 slot, menurut penjelasan dalam naskah sumber.
Dengan penambahan slot, persaingan di zona Asia berpeluang berubah. Negara-negara dengan tradisi kuat seperti Jepang, Arab Saudi, Korea Selatan, Iran, dan Australia kemungkinan tetap menjadi unggulan, namun sisa kuota yang lebih luas memberi ruang bagi negara-negara lain untuk meraih tiket.
Dalam konteks Indonesia, performa tim nasional di bawah pelatih John Herdman disebut terus membaik berkat hadirnya talenta baru dan program naturalisasi. Kondisi itu membuat posisi Indonesia di kancah Asia Tenggara dan regional makin diperhitungkan.
Dengan demikian, jika format 64 tim resmi diberlakukan, status Indonesia berpotensi bergeser dari sekadar negara yang bermimpi tampil menjadi calon yang lebih realistis untuk menembus putaran final. Tanggung jawab kini berada pada PSSI dan skuad Garuda untuk mempertahankan dan meningkatkan konsistensi performa agar siap saat kesempatan itu datang.
Ikuti Detak.media
