Fabio Quartararo mengungkapkan frustrasi mendalam terhadap performa motor Monster Energy Yamaha MotoGP yang tak kunjung kompetitif. Ia bahkan mengaku kini balapan “untuk dirinya sendiri”, bukan lagi dengan keyakinan penuh bahwa paket teknis yang dimilikinya mampu bersaing di barisan depan.

Pernyataan ini menjadi sorotan karena datang setelah ia memperpanjang kontrak bersama Yamaha hingga akhir musim 2026. Dalam hampir empat tahun terakhir, Yamaha belum sekalipun kembali meraih kemenangan di kelas utama MotoGP.

Kemenangan terakhir Yamaha terjadi pada 19 Juni 2022 melalui Quartararo di MotoGP Jerman di Sachsenring. Sejak saat itu, seluruh rival utama—Ducati, Aprilia, KTM, dan Honda—sudah kembali merasakan podium tertinggi, sementara Yamaha tertahan dalam tren negatif.

5 Alasan Fabio Quartararo Pesimistis Hadapi MotoGP Prancis 2026

Akar Masalah yang Panjang Sejak Perubahan Regulasi

Kesulitan Yamaha sebenarnya bukan fenomena baru. Sejak perubahan regulasi teknis MotoGP pada 2016—terutama transisi ke ECU standar Magneti Marelli dan penggunaan ban Michelin—karakter dasar motor Yamaha dinilai paling terdampak.

Motor Yamaha YZR-M1 yang sejak lama mengandalkan corner speed, kelembutan sasis, dan keseimbangan menikung, perlahan kehilangan keunggulan ketika rival mulai beralih ke filosofi mesin V4 yang unggul di akselerasi dan top speed.

Quartararo sempat mematahkan tren negatif Yamaha dengan meraih gelar juara dunia 2021. Namun setelah itu, penurunan performa kembali terjadi. Musim 2023, 2024, dan 2025 berlalu tanpa satu pun kemenangan bagi Yamaha.

Kontrak Baru di Tengah Kekecewaan

Keputusan Quartararo bertahan bersama Yamaha hingga MotoGP 2026 memunculkan tanda tanya besar. Pembalap asal Prancis itu dilaporkan menerima bayaran sekitar €12 juta per tahun (sekitar Rp 210 miliar per tahun dengan kurs Rp17.500/€).

Nilai kontrak tersebut menjadikannya salah satu pembalap dengan bayaran tertinggi di MotoGP, namun tidak diimbangi dengan paket motor yang mampu bersaing memperebutkan kemenangan.

Pada beberapa kesempatan sepanjang 2024–2025, Quartararo secara terbuka mengkritik kurangnya perkembangan signifikan pada M1. Ia bahkan menyebut mesin Yamaha sudah tertinggal jauh dibanding konfigurasi V4 milik para rival.

Pada Oktober 2025, Quartararo sempat menyatakan secara terbuka bahwa dirinya siap mencari opsi tim lain apabila Yamaha tidak mampu memberinya motor untuk menang, naik podium, dan kembali bertarung dalam perebutan gelar.

Tanda Frustrasi yang Terlihat Jelas

Bahasa tubuh Quartararo semakin menunjukkan kekecewaan. Dalam tes pramusim di Buriram Februari 2026, ia terekam kamera menunjukkan gestur jari tengah ke arah motornya usai hanya mampu finis di posisi ke-18 dalam simulasi balapan.

Manajer tim Massimo Meregalli mengakui bahwa Yamaha sedang berada dalam fase transisi besar, terutama dengan pengembangan mesin V4 yang benar-benar baru—sebuah langkah radikal yang belum pernah dilakukan Yamaha di era MotoGP modern.

Masalah teknis yang dialami Quartararo di MotoGP Inggris di Silverstone Circuit, saat ia sempat memimpin balapan cukup jauh sebelum mengalami kendala perangkat, menjadi simbol betapa peluang kemenangan kerap lepas bukan karena faktor pembalap, melainkan reliabilitas paket motor.

Harapan dari Proyek V4 dan Dukungan Tim Satelit

Direktur tim, Lin Jarvis, menegaskan Yamaha kini mengubah pendekatan pengembangan secara total. Sistem konsesi baru MotoGP memberi Yamaha keleluasaan mengembangkan mesin lebih agresif.

Masuknya kembali Prima Pramac Yamaha sebagai tim satelit sejak 2025 juga menjadi bagian penting dari strategi pengumpulan data lebih masif untuk mempercepat evolusi motor.

Fokus besar Yamaha kini tertuju pada proyek mesin V4 yang ditargetkan benar-benar siap balap pada pertengahan musim 2026, setelah sebelumnya masih dalam tahap uji intensif di Sepang dan beberapa tes privat.

Di tengah semua janji pengembangan tersebut, pernyataan Quartararo menjadi yang paling mengkhawatirkan bagi Yamaha.

Ketika seorang juara dunia merasa tidak lagi percaya pada paket timnya, hal itu mencerminkan krisis yang lebih dalam dari sekadar masalah teknis. Ini menyangkut kepercayaan, arah pengembangan, dan masa depan proyek balap Yamaha di MotoGP.

Toprak Razgatlioglu Kecewa Berat di Jerez, Kehilangan Ritme karena Engine Brake

Jika proyek V4 ini gagal memberi lompatan performa signifikan, bukan tidak mungkin 2026 menjadi musim terakhir kebersamaan Quartararo dan Yamaha—meski kontraknya masih berjalan.

Yamaha kini berpacu dengan waktu. Bukan hanya untuk kembali menang, tetapi untuk mengembalikan keyakinan pembalap terbaiknya bahwa mereka masih berada di jalur yang benar.