Detak Media — Manajemen Chelsea akhirnya mengambil langkah tegas dengan memberhentikan Liam Rosenior dari kursi pelatih pada Minggu (26/4/2026). Keputusan ini terbilang mengejutkan, mengingat Rosenior baru menjabat selama 106 hari sejak ditunjuk sebagai manajer utama di Stamford Bridge.
Langkah drastis ini diambil setelah performa tim terus merosot dalam beberapa pekan terakhir. Chelsea kini tertahan di peringkat kedelapan klasemen Liga Inggris, jauh dari target utama untuk kembali ke zona Liga Champions.
Rentetan Hasil Buruk Jadi Penyebab
Keputusan pemecatan Rosenior tidak lepas dari catatan buruk tim dalam beberapa pertandingan terakhir. Chelsea tercatat menelan lima kekalahan beruntun di liga domestik tanpa mampu mencetak satu gol pun.
Puncaknya terjadi saat mereka kalah telak 0-3 dari Brighton, yang menjadi laga terakhir Rosenior sebagai pelatih. Kekalahan tersebut dianggap sebagai bukti bahwa tim sudah kehilangan arah permainan.
Minimnya produktivitas di lini depan dan rapuhnya pertahanan menjadi dua masalah utama yang tak kunjung terselesaikan selama masa kepemimpinan Rosenior.
Kontras dengan Kesuksesan Musim Lalu
Situasi ini terasa semakin ironis jika melihat pencapaian Chelsea pada musim sebelumnya. Klub asal London tersebut sempat meraih kesuksesan dengan menjuarai UEFA Conference League serta Piala Dunia Antarklub FIFA.
Namun, performa gemilang tersebut tidak berlanjut di musim 2025/2026. Penurunan drastis membuat Chelsea kini terancam gagal mengamankan tiket ke kompetisi elit Eropa musim depan.
Kondisi ini menambah tekanan bagi manajemen untuk segera melakukan perubahan demi menyelamatkan musim.
Masalah Internal dan Tekanan Manajemen
Selain hasil buruk di lapangan, Chelsea juga disebut menghadapi berbagai masalah internal. Kebocoran informasi dari ruang ganti serta kurangnya keharmonisan tim memperburuk situasi.
Di bawah kepemilikan Todd Boehly, klub memang tengah menjalani proses pembangunan ulang. Namun, tekanan untuk meraih hasil instan membuat situasi menjadi semakin kompleks.
Kekalahan agregat 2-8 dari Paris Saint-Germain di kompetisi Eropa semakin memperjelas bahwa tim belum siap bersaing di level tertinggi.
Calum McFarlane Jadi Solusi Sementara
Sebagai langkah cepat, manajemen menunjuk Calum McFarlane sebagai pelatih interim hingga akhir musim. Ia diharapkan mampu menstabilkan performa tim dalam sisa pertandingan.
McFarlane bukan sosok asing bagi klub dan memiliki pengalaman menangani tim dalam situasi darurat. Tantangan utamanya adalah mengembalikan kepercayaan diri pemain serta memperbaiki konsistensi permainan.
Kandidat Pelatih Baru Mulai Bermunculan
Di sisi lain, manajemen Chelsea mulai bergerak mencari pelatih permanen untuk musim depan. Beberapa nama telah masuk dalam radar klub.
Di antaranya adalah Andoni Iraola, Marco Silva, hingga mantan pemain mereka Cesc Fabregas.
Nama Frank Lampard juga disebut-sebut masuk dalam pertimbangan, meskipun opsi ini dinilai memiliki risiko emosional mengingat hubungan historisnya dengan klub.
Evaluasi Besar di Skuad dan Transfer
Selain sektor kepelatihan, Chelsea juga menghadapi tantangan besar dalam hal komposisi skuad. Kebijakan transfer pemain muda yang diterapkan sejak 2022 dinilai belum memberikan hasil optimal.
Saat ini, tim dianggap terlalu bergantung pada performa Cole Palmer di lini serang. Di sisi lain, kurangnya pemain berpengalaman di lini belakang membuat pertahanan menjadi rapuh.
Manajemen diperkirakan akan melakukan evaluasi besar, termasuk kemungkinan menjual beberapa pemain untuk menyeimbangkan kebutuhan tim.
Ancaman Finansial Jika Gagal ke Eropa
Kegagalan lolos ke kompetisi Eropa musim depan juga berpotensi memberikan dampak finansial yang signifikan bagi klub. Pendapatan dari turnamen elit menjadi salah satu sumber utama pemasukan.
Hal ini membuat manajemen harus berhati-hati dalam mengambil keputusan, terutama terkait aktivitas transfer di musim panas mendatang.
Chelsea kini berada di persimpangan penting. Keputusan yang diambil dalam beberapa bulan ke depan akan sangat menentukan arah masa depan klub, baik dari segi prestasi maupun stabilitas finansial.
Ikuti Detak Media
