— Tidak semua aplikasi populer di Google Play Store layak dipasang di smartphone Android. Jumlah unduhan yang mencapai ratusan juta bahkan miliaran kali ternyata tidak selalu menjadi jaminan bahwa sebuah aplikasi aman atau benar-benar dibutuhkan pengguna.

Hal tersebut diungkapkan oleh Hardware Engineer Cisco Systems, Pankil Shah. Menurutnya, banyak pengguna masih memilih aplikasi berdasarkan popularitas atau rating tanpa memahami bagaimana aplikasi tersebut mengelola data pribadi maupun izin akses yang diminta.

Shah menilai perkembangan Android dalam beberapa tahun terakhir telah menghadirkan berbagai fitur bawaan yang mampu menggantikan fungsi sejumlah aplikasi pihak ketiga. Akibatnya, beberapa aplikasi yang dulu dianggap penting kini justru dinilai tidak lagi relevan, bahkan berpotensi menimbulkan risiko privasi maupun keamanan.

Berikut beberapa aplikasi yang menurutnya sebaiknya dipertimbangkan kembali sebelum dipasang di perangkat Android.

VPN Gratis Tidak Selalu Menjamin Privasi Pengguna

Salah satu kategori aplikasi yang mendapat sorotan adalah VPN gratis. Sebagai contoh, Shah menyinggung Turbo VPN yang selama ini cukup populer di kalangan pengguna Android.

Menurutnya, layanan VPN gratis dengan kuota tanpa batas patut dicermati karena menjalankan infrastruktur VPN membutuhkan biaya operasional yang besar.

Apabila pengguna tidak membayar layanan tersebut, perusahaan kemungkinan memperoleh keuntungan melalui cara lain, misalnya pemanfaatan data pengguna atau model bisnis tertentu yang kurang transparan.

Karena tujuan utama VPN adalah menjaga privasi, memilih layanan yang memiliki reputasi baik menjadi hal yang sangat penting.

Bagi pengguna yang membutuhkan VPN gratis, Shah menyarankan memilih penyedia yang telah memiliki rekam jejak panjang dan dikenal lebih transparan dalam pengelolaan data.

LastPass Dinilai Kehilangan Kepercayaan Setelah Insiden Keamanan

Kategori berikutnya adalah aplikasi pengelola kata sandi.

LastPass pernah menjadi salah satu password manager paling populer di dunia.

Namun, menurut Shah, insiden kebocoran data yang terjadi pada 2022 membuat tingkat kepercayaan terhadap layanan tersebut menurun.

Dalam peristiwa tersebut, pelaku berhasil memperoleh akses terhadap data pelanggan serta sebagian infrastruktur keamanan perusahaan.

Walaupun tidak ada layanan digital yang benar-benar kebal terhadap serangan siber, Shah menilai masih tersedia berbagai alternatif password manager dengan rekam jejak keamanan yang lebih baik.

Ia sendiri memilih menggunakan Bitwarden karena bersifat open-source serta menawarkan biaya berlangganan yang relatif terjangkau.

Truecaller Meminta Terlalu Banyak Izin Akses

Truecaller dikenal luas sebagai aplikasi identifikasi nomor telepon dan pemblokir panggilan spam.

Berkat basis data yang sangat besar, aplikasi ini mampu mengenali banyak nomor tidak dikenal yang sering digunakan untuk telemarketing maupun penipuan.

Namun, Shah menilai jumlah izin akses yang diminta aplikasi tersebut cukup berlebihan.

Selain akses ke daftar kontak, aplikasi juga meminta izin terhadap log panggilan, pesan, lokasi, media penyimpanan, hingga berbagai data lainnya.

Menurutnya, Android kini sudah memiliki sistem penyaringan panggilan spam yang jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu sehingga sebagian fungsi Truecaller telah tersedia secara bawaan.

Karena itu, pengguna disarankan mempertimbangkan kembali apakah seluruh izin yang diminta aplikasi memang benar-benar diperlukan.

CCleaner Tidak Lagi Menjadi Kebutuhan di Android Modern

CCleaner sempat menjadi aplikasi favorit untuk membersihkan file sampah dan mengoptimalkan performa perangkat.

Namun perkembangan Android membuat sebagian besar fungsi tersebut kini telah tersedia langsung di dalam sistem operasi.

Pengguna sudah dapat memantau konsumsi baterai, penggunaan memori, hingga aktivitas aplikasi melalui menu pengaturan.

Selain itu, aplikasi Files by Google juga menyediakan fitur pembersihan yang mampu mendeteksi file tidak terpakai, tangkapan layar lama, foto duplikat, hingga aplikasi yang jarang digunakan.

Dengan kemampuan tersebut, memasang aplikasi pembersih tambahan dinilai tidak lagi memberikan manfaat yang signifikan bagi sebagian besar pengguna.

Antivirus Pihak Ketiga Bukan Lagi Prioritas

Kategori terakhir yang disorot adalah aplikasi antivirus Android, termasuk AVG Antivirus & Security.

Shah menjelaskan bahwa Android saat ini telah memiliki sistem keamanan yang jauh lebih lengkap dibanding beberapa tahun lalu.

Google Play Protect secara otomatis memindai seluruh aplikasi yang terpasang, termasuk aplikasi yang diinstal secara manual, untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan.

Android juga dibekali fitur Safe Browsing yang membantu melindungi pengguna dari tautan berbahaya, malware, maupun upaya phishing.

Menurut Shah, sebagian besar fitur yang ditawarkan aplikasi antivirus pihak ketiga sebenarnya hanya mengulang fungsi yang telah tersedia di Android.

Selama pengguna mengunduh aplikasi dari Google Play Store, rutin memperbarui sistem operasi, serta tidak menonaktifkan fitur keamanan bawaan, risiko perangkat terinfeksi malware relatif rendah.

Popularitas Bukan Jaminan Aplikasi Layak Digunakan

Jumlah unduhan memang dapat menjadi salah satu indikator popularitas sebuah aplikasi, tetapi bukan berarti aplikasi tersebut selalu menjadi pilihan terbaik.

Pengguna tetap perlu memperhatikan izin akses yang diminta, kebijakan privasi, rekam jejak keamanan, hingga fungsi yang sebenarnya sudah tersedia di Android.

Semakin sedikit aplikasi yang dipasang tanpa kebutuhan yang jelas, semakin kecil pula risiko kebocoran data maupun penyalahgunaan informasi pribadi.

Karena itu, sebelum mengunduh aplikasi baru, ada baiknya pengguna memastikan terlebih dahulu apakah fungsi yang ditawarkan benar-benar dibutuhkan atau justru sudah dapat dijalankan oleh fitur bawaan Android.